Topik.ID — Pada Agustus 2006, International Astronomical Union (IAU) melalui pemungutan suara di Praha, Ceko, memutuskan untuk mencabut status Pluto sebagai planet di Tata Surya. Sejak saat itu, Pluto dikategorikan sebagai planet kerdil. Keputusan ini memicu perdebatan yang masih berlanjut hingga kini, dengan sebagian ilmuwan memperjuangkan pengembalian status Pluto sebagai planet.
Gerakan advokasi, petisi, hingga aksi protes kerap muncul, terutama di Amerika Serikat. Philip Metzger, Direktur Stephen W Hawking Centre for Microgravity Research and Education di University of Central Florida, menjelaskan bahwa isu Pluto menjadi penting di AS karena penemuannya dilakukan oleh astronom Amerika. “Pluto-lah yang kami temukan,” ujarnya, mengakui keputusan IAU sempat melukai kebanggaan masyarakat AS.
Pemicu Pencoretan Pluto dari Daftar Planet
Penemuan objek langit Eris di Sabuk Kuiper, wilayah di luar orbit Neptunus, menjadi pemicu utama pemungutan suara IAU pada 2006. Eris memiliki ukuran sebanding Pluto, namun dengan massa lebih besar. Jika Pluto dianggap planet, maka Eris pun seharusnya demikian. Sebaliknya, jika Eris bukan planet, muncul pertanyaan mengapa Pluto tetap dipertahankan.
Penemuan Eris diikuti dengan penemuan objek lain seperti Haumea, Makemake, dan Sedna. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah semua objek tersebut juga harus disebut planet, yang berpotensi menambah jumlah planet hingga ratusan.
Menghadapi situasi ini, IAU merumuskan tiga kriteria agar sebuah benda langit disebut planet:
- Mengorbit Matahari.
- Memiliki massa yang cukup untuk membentuk gravitasi yang membuatnya hampir bulat.
- Telah “membersihkan lingkungan orbitnya”, artinya mendominasi secara gravitasi area orbitnya.
Dengan kriteria ini, tidak ada objek di luar Neptunus yang memenuhi seluruh persyaratan, termasuk Pluto yang akhirnya kehilangan status planetnya.
Perdebatan Ilmiah: Kubu Geofisika vs. Dinamis
Perubahan status Pluto memperlebar perbedaan pandangan ilmiah. Setidaknya ada dua pendekatan utama yang berseberangan:
- Kubu Geofisika: Berpendapat bahwa karakteristik fisik sebuah benda langit adalah pertimbangan utama.
- Kubu Dinamis: Lebih menekankan pada posisi benda, lingkungan orbitnya, dan pergerakannya dalam sistem planet.
Kritik terhadap Definisi Planet IAU
Beberapa ilmuwan mengkritik definisi planet versi IAU. Metzger menilai definisi tersebut mencerminkan pandangan lama yang terlalu menekankan keteraturan, padahal Tata Surya modern bersifat dinamis dan kompleks. “Masyarakat saat ini sangat mampu memahami alam semesta yang dinamis dan kita kehilangan kesempatan untuk mengajarkan hal tersebut,” katanya.
Laurel Kornfeld, astronom amatir, menyebut definisi IAU sebagai “Alasan yang dibuat-buat untuk mengecualikan Pluto.” Ia mencontohkan benda yang sama bisa memenuhi definisi planet di satu orbit, namun tidak di orbit lain. Peneliti planet Alan Stern menambahkan bahwa Bumi pun tidak akan mampu membersihkan zona orbitnya jika dipindahkan ke posisi Pluto.
Metzger juga menyoroti bahwa asteroid kecil pun bisa membersihkan orbit jika berada cukup dekat dengan bintang, menunjukkan bahwa kriteria pembersihan orbit kurang bermakna. Pendukung pengembalian status Pluto menerima definisi yang lebih luas, bahkan jika jumlah planet bertambah signifikan.
Penguatan Argumen Kubu Geofisika
Perdebatan kembali menguat setelah wahana antariksa New Horizons melakukan penerbangan lintas Pluto pada 2015. Data dari misi ini menunjukkan Pluto memiliki gunung, aktivitas geologi yang relatif baru, dan bukit es air di atas nitrogen beku. Karakteristik ini dianggap mendukung argumen kubu geofisika bahwa Pluto memiliki sifat geofisika layaknya planet, bahkan berpotensi mendukung kehidupan.
Alasan Penolakan Pengembalian Status Pluto
Pihak yang menolak pengembalian status Pluto tidak hanya khawatir akan bertambahnya jumlah planet, tetapi lebih pada potensi definisi berbasis karakteristik fisik yang dapat memasukkan satelit alami seperti Bulan sebagai planet. Mike Brown, astronom yang memimpin penemuan Eris, menyatakan bahwa Bulan lebih besar dari Pluto, bulat, dan memiliki sejarah geofisika kompleks. Jika kriteria orbit dihilangkan, Bulan pun akan memenuhi kriteria planet, padahal selama ini Bulan tidak dianggap sebagai planet.
Ikuti Topik.ID
