Topik.id — Harga Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan penguatan signifikan. Aset kripto terbesar di dunia tersebut berhasil menembus level US$72.000 pada Kamis (20/8/2026), melanjutkan reli setelah sehari sebelumnya.
Berdasarkan data pasar pada Kamis, Bitcoin sempat mencapai sekitar US$72.200, menjadikannya level tertinggi dalam sekitar 10 minggu atau sejak awal Juni 2026. Dalam beberapa hari terakhir, harga BTC telah melonjak sekitar 15 persen sejak awal pekan.

Penguatan Bitcoin terjadi di tengah kombinasi sejumlah faktor, mulai dari penurunan yield obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS), meningkatnya ekspektasi terhadap pelonggaran regulasi kripto di bawah Presiden AS Donald Trump, hingga aksi short covering setelah posisi bearish dalam jumlah besar terlikuidasi.
Yield Obligasi AS Turun, Bitcoin Ikut Menguat
Salah satu katalis utama reli Bitcoin berasal dari pasar obligasi AS. Departemen Keuangan AS meningkatkan pembelian kembali atau buyback obligasi Treasury bertenor panjang menjadi US$4 miliar per operasi.
Langkah tersebut membantu meningkatkan likuiditas di pasar obligasi dan mendorong penurunan yield, sehingga turut meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko seperti saham dan kripto. Pada saat yang sama, dolar AS juga mengalami pelemahan.
Penurunan yield dan pelemahan dolar secara umum membuat aset berisiko menjadi lebih menarik bagi investor. Kondisi tersebut kemudian memberikan ruang bagi Bitcoin untuk melanjutkan penguatannya setelah sebelumnya bergerak dalam tekanan selama beberapa pekan.
Chief Operating Officer BTSE Jeff Mei mengatakan penurunan yield dan pelemahan dolar turut membantu mendorong Bitcoin bergerak lebih tinggi.
“Ketika yield turun dan dolar melemah, aset berisiko cenderung menguat, dan kami sudah melihat Bitcoin bergerak lebih tinggi setelah kabar tersebut,” ujar Mei.
Trump Dorong Clarity Act
Sentimen positif di pasar kripto juga diperkuat oleh sikap terbaru Donald Trump terhadap regulasi aset digital.
Pada Rabu (19/8/2026), Trump bertemu dengan sejumlah eksekutif perusahaan kripto di Gedung Putih. Dalam pertemuan tersebut, Trump kembali menyerukan kepada Kongres AS untuk melanjutkan dan mengesahkan Clarity Act, rancangan undang-undang yang ditujukan untuk memberikan kejelasan mengenai struktur dan regulasi pasar aset kripto di AS.
Clarity Act menjadi salah satu isu penting bagi industri kripto karena regulasi tersebut diharapkan dapat memperjelas pembagian kewenangan regulator serta status berbagai aset digital di Amerika Serikat.
Dukungan Trump terhadap rancangan undang-undang tersebut kembali meningkatkan optimisme pelaku pasar. Meski demikian, proses legislasi masih menghadapi sejumlah hambatan dan belum dapat dianggap pasti akan segera disahkan.
Hyperliquid Ikut Melonjak
Optimisme terhadap kebijakan kripto AS juga berdampak besar terhadap token Hyperliquid (HYPE).
Token tersebut melonjak lebih dari 20 persen dalam perdagangan 24 jam terakhir dan sempat mendekati US$74. Kenaikan tersebut terjadi setelah Trump memberikan sinyal positif mengenai kemungkinan platform perdagangan derivatif Hyperliquid dapat beroperasi secara legal di Amerika Serikat.
Trump sebelumnya mengindikasikan bahwa pemerintah AS tengah mengeksplorasi jalur hukum agar Hyperliquid dapat beroperasi di pasar AS. Sinyal tersebut memperkuat persepsi bahwa pemerintahan Trump semakin terbuka terhadap industri aset digital dan keuangan terdesentralisasi.
Short Position Senilai Miliaran Dolar Terlikuidasi
Lonjakan Bitcoin juga diperkuat oleh aksi short squeeze. Ketika harga BTC menembus sejumlah level resistance penting, posisi trader yang bertaruh terhadap penurunan harga mulai terlikuidasi secara masif.
Data pasar menunjukkan lebih dari US$3 miliar posisi short kripto terhapus dalam gelombang penguatan tersebut. Likuidasi paksa ini kemudian menciptakan tekanan beli tambahan karena trader yang sebelumnya bertaruh harga akan turun harus membeli kembali aset untuk menutup posisi mereka.
Kondisi tersebut membuat kenaikan Bitcoin berlangsung semakin cepat. Setelah menembus US$70.000, BTC kemudian melanjutkan pergerakan hingga melewati US$72.000.
Bitcoin Kembali Jadi Pusat Perhatian Pasar
Penguatan Bitcoin kali ini tidak hanya terjadi pada aset kripto utama. Ethereum, XRP, Solana, serta sejumlah altcoin lainnya juga mencatat kenaikan signifikan dalam periode yang sama. Token HYPE bahkan menjadi salah satu aset dengan performa paling menonjol setelah melonjak lebih dari 20 persen.
Bitcoin sendiri kini telah merebut kembali sejumlah level teknikal penting setelah sebelumnya mengalami tekanan sepanjang beberapa bulan pertama 2026. Namun, reli cepat tersebut juga membuat pasar perlu mewaspadai potensi aksi ambil untung setelah kenaikan yang sangat tajam.
Dengan Bitcoin kini berada di atas US$72.000, perhatian investor selanjutnya tertuju pada apakah BTC mampu mempertahankan momentum dan melanjutkan reli menuju level resistance berikutnya, atau justru mengalami koreksi setelah lonjakan dalam beberapa hari terakhir.
Untuk saat ini, kombinasi membaiknya likuiditas, penurunan yield Treasury, dukungan politik terhadap regulasi kripto, serta short squeeze telah menjadi katalis utama yang mengubah sentimen pasar dan membawa Bitcoin kembali ke level tertingginya sejak awal Juni 2026.
Ikuti Topik.id

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.