Topik.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan meluas dan menimbulkan kekhawatiran serius. Dampak kebakaran tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga meluas hingga negara tetangga Malaysia, mengancam satwa liar seperti orangutan, serta memburuknya kualitas udara.
Data pemantauan satelit menunjukkan lonjakan signifikan titik panas di Kalimantan, terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Berdasarkan data Satelit NOAA-20 pada Kamis (20/8/2026), tercatat 1.487 hotspot di seluruh Kalimantan, dengan konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah (767 titik) dan Kalimantan Barat (560 titik). Kementerian Kehutanan melaporkan 750 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan selama periode 17-19 Agustus 2026.
Kondisi kekeringan yang dipicu fenomena El Nino yang kuat disebut menjadi salah satu faktor penyebab meluasnya kebakaran. France 24 melaporkan hampir 95.000 hektare lahan terbakar hanya dalam satu bulan, angka ini lebih besar dibandingkan periode El Nino sebelumnya pada 2019 dan 2023.
Kabut asap tebal akibat karhutla menyelimuti sejumlah wilayah, termasuk Palangka Raya dan Pontianak. Dampaknya bahkan meluas hingga ke negara bagian Sarawak, Malaysia, yang berbatasan dengan Kalimantan. Kualitas udara di enam wilayah Sarawak dilaporkan tidak sehat, bahkan mencapai kategori sangat tidak sehat dengan Indeks Pencemaran Udara (API) mencapai 202 di Serian. Akibatnya, 108 sekolah di wilayah tersebut terpaksa ditutup sementara dan menerapkan Pembelajaran dan Pengajaran Berbasis Rumah (PdPR) untuk melindungi siswa. Dinas Pendidikan Sarawak juga menginstruksikan penangguhan kegiatan luar ruangan jika suhu terlalu tinggi atau indeks kualitas udara mencapai lebih dari 100.
Ancaman terhadap satwa liar, khususnya orangutan, juga menjadi sorotan media internasional seperti The Guardian. Kobaran api dilaporkan mendekati pusat rehabilitasi orangutan, memaksa staf memindahkan sekitar 60 orangutan ke kandang yang lebih aman. Pihak berwenang melakukan pengeboman air dari udara untuk membantu mengendalikan kobaran api yang semakin besar.
Pemerintah Indonesia mengerahkan puluhan pesawat dan helikopter untuk mengendalikan kebakaran. Sebanyak 43 helikopter dan 15 pesawat sayap tetap dikerahkan untuk operasi pemadaman. Selain itu, upaya penyemaian awan juga dilakukan sebagai bagian dari strategi memadamkan kebakaran dan mencegah dampaknya meluas.
Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan atau jantung diminta membatasi paparan udara tercemar. BNPB mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama musim kemarau dan tidak melakukan pembakaran di wilayah rawan.
Sementara itu, tampilan titik api di Google Maps yang viral di media sosial menunjukkan gambaran masifnya kebakaran. Namun, data pada peta digital tersebut perlu diverifikasi dengan sumber resmi seperti BNPB, BMKG, dan pemerintah daerah karena merupakan perkiraan yang memiliki keterbatasan sensor satelit. Peningkatan titik panas yang tercatat dalam pemantauan pemerintah menegaskan perlunya kewaspadaan berkelanjutan terhadap karhutla.
Ikuti Topik.id

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.