Topik.id — FIFA menjatuhkan sanksi larangan bermain kepada tiga pemain tim nasional Argentina, termasuk gelandang Leandro Paredes yang mendapat hukuman 10 pertandingan, menyusul insiden keributan seusai final Piala Dunia melawan Spanyol.
Paredes, yang terlibat dalam aksi menarik Eric García dari Spanyol dan mendorong Gavi hingga terjatuh, juga dikenai denda sebesar 90.000 dolar AS. Sanksi ini menjadi salah satu yang terberat dalam sejarah Piala Dunia, menyamai hukuman Luis Suárez pada 2014.
Bek Argentina Nahuel Molina dijatuhi hukuman tujuh pertandingan dan denda 90.000 dolar AS. Sementara itu, Thiago Almada mendapat larangan bermain satu pertandingan dan denda 30.000 dolar AS.
Dari jajaran staf pelatih, Roberto Ayala dikenai larangan tiga pertandingan dan denda 30.000 dolar AS. Pemain Spanyol, Gavi, juga mendapat sanksi larangan satu pertandingan dan denda 30.000 dolar AS.
Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) sendiri dikenai denda total 321.000 dolar AS untuk berbagai pelanggaran. Denda ini mencakup pemasangan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” atau “Kepulauan Falkland adalah Argentinian” setelah kemenangan semifinal atas Inggris, serta pelanggaran regulasi anti-diskriminasi oleh suporter di beberapa pertandingan Piala Dunia.
FIFA juga memerintahkan AFA untuk menggelar pertandingan kandang berikutnya dengan kapasitas 50 persen, dengan sanksi tambahan serupa ditangguhkan. Sebesar 100.000 dolar AS dari total denda tersebut juga ditangguhkan oleh FIFA.
Pemasangan spanduk tersebut sempat menuai kecaman dari politisi Inggris. Sementara itu, UEFA sebelumnya juga telah menjatuhkan sanksi kepada dua pemain Spanyol, Rodri dan Álvaro Morata, karena menyanyikan klaim Spanyol atas Gibraltar setelah kemenangan mereka di Euro 2024.
Pada 6 Agustus, AFA mengumumkan bahwa tanggal kemenangan semifinal atas Inggris, 15 Juli, akan diperingati sebagai Hari Tim Nasional Sepak Bola di masa mendatang.
AFA memiliki opsi untuk mengajukan banding atas sanksi dan denda yang dijatuhkan FIFA kepada komite banding badan sepak bola dunia tersebut, serta opsi untuk membawa kasus ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) sebagai upaya terakhir.
Ikuti Topik.id

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.