— Kiper Athletic Club, Unai Simon, mengakui timnya benar-benar kesulitan menghadapi Barcelona dalam pertandingan yang berakhir dengan kekalahan 0-2.

Simon menilai Barcelona tampil dominan sejak awal pertandingan. Athletic Club sebenarnya sudah memperkirakan bakal menghadapi laga sulit, tetapi tidak menyangka pertandingan berjalan sepihak seperti yang mereka alami.

“Kami benar-benar kalah dalam permainan malam ini. Sebelum pertandingan, kami memang memperkirakan akan kalah, tetapi tidak dengan cara seperti ini. Barcelona membuat kami seperti tidak memiliki jawaban. Beberapa kali rasanya kami hanya mengejar bayangan,” ujar Simon.

Kecepatan permainan Barcelona menjadi salah satu faktor utama yang membuat Athletic kesulitan. Anthony Gordon, Lamine Yamal, Raphinha, dan Ferran Torres disebut terus mengalirkan bola dengan cepat sehingga para pemain Athletic tidak memiliki kesempatan untuk mengatur permainan.

Di lini tengah, Pedri juga mendapat pujian khusus. Simon menilai gelandang Barcelona tersebut mampu mengendalikan jalannya pertandingan bersama para pemain Spanyol lainnya.

“Anthony Gordon, Lamine Yamal, Raphinha, dan Ferran Torres terus menggerakkan bola dengan sangat cepat sehingga kami tidak bisa menemukan ritme. Kemudian ada Pedri yang mengendalikan semuanya di lini tengah bersama rekan-rekan senegaranya. Mereka menguasai jalannya pertandingan dari awal hingga akhir,” lanjutnya.

Athletic Club sebenarnya mencoba berbagai pendekatan untuk keluar dari tekanan. Namun, setiap strategi yang diterapkan selalu berhasil diantisipasi Barcelona.

“Kami mencoba melakukan pressing, tetapi mereka mampu melewati tekanan kami. Kami mencoba bertahan lebih dalam, tetapi mereka menemukan ruang. Kami mencoba menyerang, tetapi Barcelona langsung merebut kembali bola. Rasanya setiap solusi yang kami miliki sudah lebih dulu mereka temukan jawabannya,” kata Simon.

Menurut Simon, Lamine Yamal terus memberikan ancaman, sementara Raphinha membuat pertahanan Athletic harus bekerja lebih keras. Gordon tampil agresif, Ferran Torres juga memberikan masalah, sedangkan Pedri bertugas mengatur tempo permainan.

“Lamine terus memberikan tekanan kepada kami, Raphinha membuat pertahanan kami melebar, Gordon bermain agresif, Ferran membuat kami kesulitan, dan Pedri mengendalikan tempo. Mereka membuat lapangan terasa semakin luas bagi kami, tetapi justru semakin sempit bagi pemain-pemain kami,” ujarnya.

Dominasi Barcelona bahkan membuat Athletic lebih banyak bertahan daripada memainkan sepak bola mereka sendiri.

“Pada suatu titik, Anda melihat sekeliling dan menyadari bahwa Anda menghabiskan lebih banyak waktu untuk bertahan daripada bermain sepak bola. [tertawa] Seperti itulah bagusnya Barcelona malam ini,” tutur Simon.

Meski kalah 0-2, Simon menilai skor tersebut justru masih cukup menguntungkan bagi Athletic Club. Menurutnya, Barcelona sebenarnya memiliki peluang untuk mencetak lebih banyak gol.

“Kami kalah 0-2, tetapi sejujurnya skor tersebut bisa saja lebih buruk. Barcelona mengendalikan pertandingan, mengontrol tempo, dan memberikan kami sangat sedikit pilihan. Kami benar-benar tidak mampu mendekati level permainan mereka,” pungkas Simon.