Teknologi

Amazon Operasikan 1 Juta Robot, Keberadaan Pekerja Manusia Terancam

Amazon kini mengoperasikan lebih dari 1 juta robot di gudangnya. Kehadiran mesin otomatisasi ini dinilai mengancam posisi pekerja manusia.

Amazon Operasikan 1 Juta Robot, Keberadaan Pekerja Manusia Terancam
Ilustrasi pekerja robot di gudang Amazon (Sumber: REUTERS/Clodagh Kilcoyne)

Amazon mencatatkan pencapaian baru dalam sistem logistiknya dengan mengoperasikan lebih dari 1 juta unit armada robot. Jajaran mesin otomatisasi tersebut mencakup lengan mekanis, perangkat pengangkut barang, hingga mesin penyortir berukuran besar.

Kehadiran teknologi ini diklaim mampu mempercepat proses pengiriman barang sekaligus menekan anggaran operasional perusahaan. Kendati demikian, bagi lebih dari 1,5 juta karyawan tetap maupun paruh waktu di Amazon, masifnya penggunaan robot memunculkan kekhawatiran tersendiri terhadap kelangsungan pekerjaan mereka.

Brad Greenwood, seorang profesor bidang bisnis dari George Mason University, menyatakan bahwa mesin-mesin gudang tersebut tidak sekadar berfungsi memangkas pengeluaran tenaga kerja. Robot-robot itu juga secara langsung mengurangi ruang gerak manusia di dalam fasilitas kerja perusahaan.

“Selama 100 tahun terakhir, sebagian besar otomatisasi yang kita lihat biasanya terjadi jauh dari para pekerja. Kita mengambil tugas berisiko tinggi tersebut dari para pekerja, dan melakukannya dengan cara yang tidak berdekatan secara fisik,” jelas Greenwood.

“Namun perkembangan armada robot Amazon benar-benar mengubah dinamika tersebut karena dua alasan, pertama, ia berada dalam jarak yang dekat secara fisik dan kedua, robot tersebut punya kemampuan mendikte tempo kerja,” lanjutnya.

Transformasi sistem kerja ini memberikan keuntungan finansial yang signifikan bagi Amazon. Keberadaan robot terbukti mampu memangkas hambatan dalam rantai pasok, mendongkrak efisiensi waktu, serta memperbesar margin keuntungan.

Melalui mesin yang mengatur kecepatan ritme operasional, perusahaan juga dapat meminimalkan ketergantungan terhadap tenaga manusia. Situasi ini turut melemahkan posisi tawar para karyawan secara individu maupun kekuatan perundingan kolektif dari serikat pekerja.

Di sisi lain, pencapaian di sektor otomatisasi ini kerap dimanfaatkan sebagai strategi humas untuk mengalihkan perhatian publik dari isu keselamatan kerja. Joan Moriarty, direktur koalisi serikat pekerja Strategic Organizing Center, menyoroti hal tersebut.

“Amazon gemar membicarakan robot-robot terbarunya karena mereka tidak ingin membicarakan puluhan ribu pekerja Amazon yang mengalami cedera setiap tahunnya akibat obsesi Amazon dalam memaksimalkan kecepatan dan meminimalkan biaya,” cetus Moriarty.