TOPIK.ID — Jawa Timur berada di kawasan tektonik aktif dengan wilayah pesisir selatan yang berhadapan langsung dengan zona subduksi, titik pertemuan antara Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Sunda.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat sejumlah aktivitas gempa di wilayah selatan Jawa Timur, di antaranya magnitudo 6,2 di laut tenggara Pacitan pada 6 Februari, magnitudo 5,3 di lokasi serupa pada 27 Juni, serta magnitudo 5,0 di selatan Malang pada 14 September.
Mengenal Zona Subduksi Selatan Jawa
Zona subduksi selatan Jawa merupakan bagian dari sistem subduksi Sunda. Pada wilayah ini, lempeng samudra yang lebih padat bergerak masuk ke bawah lempeng benua yang lebih ringan di sepanjang kawasan lepas pantai selatan Jawa.
Proses pergerakan yang berlangsung secara terus-menerus selama jutaan tahun tersebut menjadikan sistem subduksi Sunda sebagai salah satu pemicu utama gempa tektonik di selatan Pulau Jawa, termasuk kawasan Jawa Timur.
Mekanisme Terjadinya Gempa Megathrust
Ketika dua lempeng saling bergesekan, permukaannya tidak selalu bergerak secara mulus dan terkadang saling mengunci dalam kurun waktu tertentu. Di masa penguncian itu, tekanan terus menumpuk di bidang pertemuan lempeng.
Saat kuncian tersebut terlepas, energi yang terakumulasi dilepaskan secara serentak dan memicu gempa bumi dengan mekanisme pergerakan naik. Apabila pelepasan energi berlangsung di laut dangkal dan menggerakkan dasar laut secara vertikal, gempa megathrust berisiko memicu tsunami.
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, terdapat empat segmen megathrust di selatan Pulau Jawa, meliputi Megathrust Selat Sunda-Banten, Megathrust Jawa Barat, Megathrust Jateng-Jatim, serta Megathrust Bali.
Penyebab Wilayah Jawa Timur Rawan Gempa
Kawasan pesisir selatan Jawa Timur berhadapan langsung dengan jalur pertemuan lempeng, membuat wilayah ini sering merasakan getaran akibat aktivitas subduksi.
Gempa di zona megathrust selatan Jawa memiliki magnitudo yang beragam. BMKG menyebutkan bahwa sebagian besar gempa yang terjadi justru berkekuatan di bawah magnitudo 5 atau masuk dalam kategori kecil hingga sedang.
Catatan sejarah menunjukkan sejumlah gempa pernah melanda Jawa Timur, mulai dari gempa Tulungagung pada 1902, Pacitan berkekuatan magnitudo 7,2 pada 1937, Lamongan pada 1939, dua kali gempa Malang pada 1958 dan 1967, hingga rangkaian gempa magnitudo 5 dan 6 sepanjang tahun 2026.
Delapan Kabupaten Pesisir Jatim Berisiko Tsunami
Terdapat delapan kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur yang berada di sekitar zona megathrust dan berpotensi terdampak gempa kuat serta tsunami. Wilayah tersebut terbentang dari barat hingga timur:
- Pacitan
- Trenggalek
- Tulungagung
- Blitar
- Malang
- Lumajang
- Jember
- Banyuwangi
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur memetakan 156 desa dan kelurahan di delapan kabupaten tersebut yang masuk dalam kategori berisiko tinggi terdampak tsunami. Kabupaten Banyuwangi memiliki sebaran terbanyak dengan 47 desa, diikuti Pacitan sebanyak 26 desa, serta Malang sejumlah 20 desa.
Pembelajaran dari Tsunami Banyuwangi 1994
Pusat Studi Gempa Nasional pada 2020 membagi megathrust selatan Jawa ke dalam beberapa segmen. Skenario terburuk memperlihatkan bahwa pecahnya dua segmen secara bersamaan dapat memicu tsunami setinggi 20 meter di pesisir Jawa Barat dan 12 meter di pesisir Jawa Timur.
Pemodelan BMKG di tingkat kabupaten mencatat potensi tsunami tertinggi berada di Trenggalek yang mencapai 26 hingga 29 meter. Sementara itu, gelombang tercepat diperkirakan tiba di Blitar hanya dalam kurun waktu 20 hingga 24 menit usai gempa terjadi.
Ancaman bencana ini bukan hal baru bagi Jawa Timur. Pada 2 Juni 1994, gempa bermagnitudo 7,8 mengguncang Samudra Hindia sekitar 200 kilometer di selatan Jawa Timur dengan guncangan yang dirasakan relatif lemah di wilayah pesisir.
Sekitar tujuh jam kemudian, gelombang tsunami setinggi 13 hingga 14 meter menerjang kawasan Pancer, Rajegwesi, Lampon, dan Grajagan di Banyuwangi. Peristiwa tersebut merenggut nyawa sekitar 229 orang, melukai ratusan warga, serta menghancurkan lebih dari 1.300 rumah.
Peristiwa tersebut dikategorikan sebagai tsunami earthquake, yakni gempa yang guncangannya di daratan terasa relatif lemah tetapi mampu memicu deformasi dasar laut yang besar dan menghasilkan gelombang tsunami berbahaya.
Langkah Mitigasi dan Kesiapsiagaan
Kasus masa lalu menunjukkan bahwa kekuatan guncangan yang dirasakan di daratan tidak selalu bisa dijadikan patokan untuk menilai risiko tsunami. Tidak semua gempa di selatan Jawa memicu gelombang tsunami, seperti tiga kejadian gempa di Pacitan dan Malang sepanjang 2026 yang dipastikan tidak berpotensi tsunami.
Meski demikian, masyarakat di kawasan pesisir tetap perlu memahami langkah mitigasi karena gempa jenis tertentu sulit dikenali hanya dari besaran guncangan yang dirasakan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan BMKG merekomendasikan prinsip 20-20-20 sebagai panduan evakuasi mandiri. Apabila warga merasakan guncangan gempa selama 20 detik atau lebih di daerah pesisir, proses evakuasi harus segera dilakukan dalam waktu 20 menit menuju tempat berketinggian minimal 20 meter tanpa harus menunggu peringatan resmi.
Selain itu, BMKG dan BPBD Jatim telah memasang sirine serta sistem peringatan dini di sejumlah titik rawan pada delapan kabupaten yang berisiko terdampak tsunami.
