— Penyanyi tenor asal Italia, Andrea Bocelli, akhirnya menyampaikan tanggapan atas polemik rencana konsernya di Indonesia. Ia menegaskan bahwa kedatangannya untuk tampil di Tanah Air berlandaskan seni dan kemanusiaan, bukan untuk menyampaikan dukungan politik maupun kepentingan militer pihak tertentu.

Pernyataan tersebut muncul setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta pemerintah mempertimbangkan pembatalan konser Bocelli yang dijadwalkan berlangsung di Candi Borobudur pada 31 Oktober 2026 dan Jakarta pada 3 November 2026. Desakan itu berkaitan dengan tudingan mengenai hubungan Bocelli dengan Israel, termasuk aktivitas dan penampilannya pada tahun-tahun sebelumnya.

Andrea Bocelli Tegaskan Musik Bukan Alat Politik

Dalam pernyataan tertulis yang diterima Investor Daily pada Senin (12/10/2026), Bocelli menyampaikan bahwa musik selama puluhan tahun menjadi jalan untuk mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda. Menurut dia, pengalaman tampil di hadapan masyarakat dari berbagai pihak yang berseberangan justru memperlihatkan adanya harapan bersama terhadap perdamaian.

Bocelli mengatakan dirinya tengah mempersiapkan penampilan di Indonesia dengan semangat yang sama. Ia berharap konser tersebut dapat dinikmati oleh penonton tanpa dikaitkan dengan pesan politik atau dianggap sebagai dukungan terhadap posisi politik tertentu.

Ia juga memastikan tidak ada rencana penggalangan dana untuk kepentingan politik maupun militer yang berkaitan dengan konser di Indonesia. Bocelli menegaskan bahwa pendapatan dari pertunjukan tersebut tidak ditujukan untuk membiayai kepentingan semacam itu.

MUI Soroti Rekam Jejak Bocelli

Sebelumnya, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, meminta pemerintah tidak memberikan izin bagi penyelenggaraan konser Bocelli. Pernyataan itu disampaikan setelah muncul kontroversi mengenai rencana pertunjukan musisi tersebut di Indonesia.

Sudarnoto menyoroti dugaan keterlibatan Bocelli dalam kegiatan penggalangan dana untuk militer Israel di Los Angeles pada 2010 serta konser yang pernah digelar di Tel Aviv pada 2022. Menurut MUI, persoalan tersebut perlu menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengambil keputusan.

Desakan pembatalan itu juga muncul setelah pemerintah membatalkan rencana konser Israel Houghton bersama grup Israel & New Breed. MUI menilai sikap pemerintah terhadap kegiatan yang berkaitan dengan dukungan kepada Israel perlu sejalan dengan prinsip kemanusiaan dan dukungan Indonesia terhadap rakyat Palestina.

Bocelli Sebut Musik sebagai Jembatan Perdamaian

Dalam penjelasannya, Bocelli turut menyampaikan bahwa dirinya berusaha membantu sesama tanpa membedakan asal-usul maupun keyakinan. Ia menyebut anugerah suara yang dimilikinya sebagai sarana untuk menghadirkan keindahan dan berbagi dengan orang lain.

Bocelli juga menyinggung penampilan terdahulu yang kembali menjadi sorotan. Ia menyatakan bahwa niatnya saat tampil, sebagaimana pertunjukan lain sepanjang kariernya, adalah mempersembahkan musik kepada pendengar.

Menurut Bocelli, musik dapat membuka ruang komunikasi yang tertutup akibat perpecahan. Ia berharap konser di Indonesia dapat dipahami berdasarkan semangat tersebut, meski polemik mengenai rencana kedatangannya masih menjadi perhatian publik.