Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menjadi pilihan utama Mirae Asset Sekuritas Indonesia di tengah ketidakpastian pasar modal akibat rencana perubahan klasifikasi saham Indonesia oleh MSCI. Meski berpotensi menghadapi tekanan jual besar dari investor asing, penurunan harga BBCA justru dinilai dapat dimanfaatkan untuk mengakumulasi saham secara bertahap.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, memperkirakan BBCA akan menjadi salah satu saham yang paling diminati ketika aliran dana asing kembali ke pasar saham domestik. Prospek tersebut tetap dipertahankan meskipun saham bank swasta terbesar di Indonesia itu masih menghadapi risiko tekanan jual tertunda atau market overhang.
BBCA Berpotensi Jadi Sasaran Dana Asing
Nurkholis menegaskan BBCA masih masuk daftar saham pilihan utama Mirae. Menurut riset yang dikutip pada Senin (19/10/2026), posisi BBCA dalam indeks MSCI Indonesia membuat saham tersebut berpotensi terkena dampak besar apabila terjadi arus keluar dana investasi pasif.
BBCA memiliki bobot sebesar 31,4% dalam indeks tersebut. Sementara itu, tiga bank besar lainnya, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), turut mendominasi komposisi indeks.
Secara keseluruhan, keempat bank tersebut menguasai 71,7% bobot MSCI Indonesia. Indeks ini hanya mencakup sembilan saham dengan kapitalisasi pasar berdasarkan saham beredar publik atau free float market capitalization mencapai US$53,4 miliar.
Kondisi tersebut membuat potensi arus keluar dana pasif terkonsentrasi pada empat bank besar. Padahal, persoalan yang menjadi perhatian MSCI terutama berkaitan dengan transparansi dan konsentrasi kepemilikan saham pada emiten lain.
Rencana MSCI Picu Ketidakpastian Pasar
MSCI pada 15 Oktober 2026 membuka konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market, tanpa melalui kategori frontier market.
Penyedia indeks global tersebut menyoroti sejumlah persoalan, termasuk keterbukaan informasi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta penegakan aturan yang dinilai belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Proses konsultasi dijadwalkan berlangsung hingga 30 April 2027. Keputusan final direncanakan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Mirae memperkirakan potensi penghapusan saham Indonesia dari indeks MSCI akan menggunakan harga pasar karena Indonesia tidak menerapkan pembatasan arus modal. Dengan demikian, penyesuaian berpotensi memicu transaksi jual di bursa.
BRIS Dipertahankan, BMRI Masih Dibayangi Risiko
Selain BBCA, Mirae tetap menjagokan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Saham ini dinilai relatif lebih terlindungi dari tekanan jual langsung karena tidak menjadi konstituen MSCI Indonesia dan memiliki keterbatasan kepemilikan asing pada saham beredar publik.
Sebaliknya, BMRI masih menjadi perhatian karena potensi arus keluar dana dapat menambah tekanan terhadap likuiditas dan permodalan.
Mirae menilai pemulihan kepercayaan investor membutuhkan penegakan hukum terhadap manipulasi perdagangan serta penerapan aturan minimum free float yang tegas sebelum 30 April 2027. Berkaca pada pengalaman Pakistan, pembenahan dinilai perlu menyasar akar masalah, bukan hanya mengandalkan pengetatan batas auto rejection atau penghentian sementara perdagangan (trading halt) berulang kali.









