— Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Bank Indonesia (BI) menyebut tekanan terhadap mata uang Garuda tidak terlepas dari perkembangan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Rupiah ditutup pada level Rp17.981 per dolar AS, turun tipis 3 poin atau 0,02% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp17.978 per dolar AS. Di tengah pergerakan tersebut, BI mencermati sejumlah faktor eksternal dan domestik yang berpotensi memengaruhi stabilitas nilai tukar.

Inflasi Global dan Harga Minyak Jadi Tekanan

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kekhawatiran mengenai inflasi global dan risiko fiskal. Situasi tersebut semakin kuat seiring kenaikan harga minyak dunia yang telah menembus US$108 per barel.

Kondisi harga minyak juga berkaitan dengan belum tercapainya kesepakatan mengenai pembukaan Selat Hormuz. Ketidakpastian tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar karena dapat memengaruhi pasokan energi global dan meningkatkan tekanan inflasi.

Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi di berbagai negara. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan bank sentral global, khususnya Amerika Serikat.

Yield US Treasury Naik ke Level Tertinggi

Tekanan ekonomi global juga mendorong munculnya ekspektasi bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat dapat kembali mengetat. Perubahan ekspektasi tersebut tercermin dari kenaikan imbal hasil atau yield surat utang pemerintah AS.

Yield US Treasury tenor 10 tahun kembali meningkat hingga 5,23%. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield membuat aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik bagi sebagian investor dan pada saat yang sama dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Pergerakan yield obligasi AS menjadi salah satu indikator yang terus diperhatikan BI karena perubahan imbal hasil dapat memengaruhi arus modal global.

Kebutuhan Dolar Importir Ikut Menekan Rupiah

Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya kebutuhan valuta asing dari pelaku usaha domestik. Menurut BI, kebutuhan valas importir menjelang berakhirnya kuartal III turut memengaruhi pergerakan nilai tukar.

Di sisi lain, arus dana portofolio keluar dari aset negara berkembang juga menjadi faktor tambahan. Kondisi tersebut terjadi ketika yield obligasi meningkat sehingga investor melakukan penyesuaian portofolio di tengah perubahan tingkat risiko pasar.

Kombinasi kebutuhan dolar dari importir dan pergerakan dana portofolio membuat tekanan terhadap rupiah semakin terasa pada perdagangan pasar valuta asing.

BI Perkuat Langkah Stabilkan Nilai Tukar

BI menyatakan tetap berada di pasar untuk menjaga agar mekanisme pembentukan nilai tukar berjalan secara baik dan stabil. Bank sentral juga terus menyesuaikan strategi operasi moneter agar kondisi pasar uang tetap mendukung stabilitas rupiah.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai instrumen. BI menjalankan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Bank sentral juga memperkuat likuiditas dan memberikan insentif pada instrumen swap serta DNDF lindung nilai. Koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar turut dilakukan untuk menjaga kondisi pasar tetap teratur.

Cadangan Devisa Naik Jadi US$146,5 Miliar

Meski rupiah menghadapi tekanan, BI mencatat pergerakannya masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date, pelemahan rupiah tercatat terbatas sebesar 0,67%.

Dari sisi ketahanan eksternal, posisi cadangan devisa Indonesia juga menunjukkan peningkatan. Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa tercatat mencapai US$146,5 miliar.

BI akan terus memantau perkembangan ekonomi global, harga komoditas, pergerakan yield obligasi AS, serta arus modal untuk menjaga stabilitas rupiah. Kondisi tersebut menjadi perhatian penting menjelang memasuki kuartal IV 2026.