Bank Indonesia (BI) memperkuat langkah stabilisasi pasar keuangan untuk mengantisipasi berlanjutnya aliran modal asing keluar dari Indonesia. Tekanan global yang memicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS) membuat bank sentral perlu menjaga pergerakan rupiah agar tetap sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi nasional.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, meningkatnya kecenderungan investor menghindari risiko atau risk-off turut menekan aset keuangan domestik. Situasi tersebut membuat arus keluar dana dari instrumen portofolio Indonesia diperkirakan masih berlanjut.
BI Perkuat Intervensi di Pasar Keuangan
Menghadapi tekanan eksternal, BI mempertahankan kehadirannya di pasar valuta asing melalui sejumlah instrumen intervensi. Langkah tersebut mencakup transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
Erwin menegaskan, intervensi dilakukan untuk menjaga kestabilan nilai tukar sekaligus memastikan mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik.
Di tengah gejolak global, pelemahan rupiah sejak awal kuartal IV-2026 hingga perkembangan terakhir tercatat sebesar 0,28% secara quarter-to-date (QTD). BI menilai pergerakan tersebut masih sejalan dengan dinamika mata uang negara-negara di kawasan.
Ketahanan eksternal Indonesia juga ditopang cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026. Selain intervensi, BI mengelola kecukupan likuiditas dan struktur suku bunga pasar uang. Koordinasi dengan korporasi, pelaku pasar, serta berbagai pihak terkait turut dilakukan untuk menjaga kepercayaan pasar.
Inflasi AS Menjadi Sorotan Investor
Perkembangan inflasi Amerika Serikat menambah tantangan bagi stabilitas rupiah. Inflasi AS pada September 2026 dilaporkan melampaui perkiraan pasar, sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan mendorong investor mengurangi eksposur pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Risiko lain datang dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Perubahan harga energi akibat konflik berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan memengaruhi arah kebijakan moneter negara-negara utama.
Rupiah Ditutup Melemah pada Perdagangan Kamis
Pada penutupan perdagangan Kamis (15/10/2026), rupiah berada di level Rp17.938 per dolar AS. Posisi itu melemah 35 poin atau 0,20% dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar Rp17.903 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI tercatat Rp17.948 per dolar AS.
Sebelumnya, dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026, BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, arah dolar AS, kebijakan suku bunga The Fed, dan pergerakan modal asing masih menjadi faktor penentu bagi rupiah. BI pun perlu menjaga konsistensi stabilisasi untuk meredam gejolak pasar.









