— Indonesia berada di kawasan tektonik yang sangat aktif sehingga memiliki banyak sumber gempa bumi yang tersebar di berbagai wilayah. Salah satu sumber yang menjadi perhatian dalam kajian kebencanaan adalah zona megathrust, yakni kawasan subduksi tempat lempeng tektonik saling bertemu dan salah satunya menunjam ke bawah lempeng lainnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali menjelaskan keberadaan zona megathrust berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024. Peta tersebut mencatat 14 segmen megathrust di Indonesia dan kawasan sekitarnya, dengan nilai magnitudo maksimum atau Mmax yang berbeda-beda. Angka tersebut merupakan hasil pemodelan ilmiah dan bukan ramalan mengenai waktu terjadinya gempa.

Zona Megathrust Membentang di Sekitar Indonesia

Zona megathrust terbentuk di wilayah subduksi ketika dua lempeng tektonik berinteraksi. Pergerakan kedua lempeng dapat berlangsung secara perlahan, tetapi pada kondisi tertentu bagian bidang pertemuan lempeng dapat mengalami penguncian akibat gesekan.

Energi akibat pergerakan tektonik kemudian dapat terakumulasi. Jika energi tersebut dilepaskan secara tiba-tiba, gempa bumi dengan kekuatan besar dapat terjadi.

Karena Indonesia berada di pertemuan sejumlah lempeng tektonik, wilayah sumber gempa tersebar mulai dari bagian barat Sumatera hingga kawasan timur Indonesia dan wilayah sekitarnya. BMKG sebelumnya juga menjelaskan bahwa pembahasan mengenai megathrust merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan, bukan peringatan bahwa gempa besar akan segera terjadi.

Aceh-Andaman Memiliki Nilai Mmax hingga 9,2

Dalam pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, Megathrust Aceh-Andaman tercatat memiliki nilai Mmax terbesar, yakni 9,2. Nilai tersebut menggambarkan magnitudo maksimum yang diperhitungkan dalam pemodelan sumber gempa.

Di bawahnya terdapat sejumlah segmen lain dengan nilai potensi maksimum yang juga tinggi. Megathrust Nias-Simeulue memiliki Mmax 8,7, sedangkan Megathrust Batu berada pada Mmax 7,8.

Wilayah Mentawai juga terbagi dalam beberapa segmen. Megathrust Mentawai-Siberut dan Mentawai-Pagai masing-masing memiliki nilai Mmax 8,9. Sementara itu, Megathrust Enggano juga tercatat memiliki nilai maksimum 8,9.

Zona Jawa Masuk dalam Pemetaan Megathrust

Jawa menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam pemodelan tersebut. Megathrust Jawa memiliki nilai Mmax hingga 9,1, sedangkan segmen Jawa bagian barat dan Jawa bagian timur masing-masing tercatat mencapai 8,9.

Data tersebut tidak berarti gempa berkekuatan M9,1 atau M8,9 akan terjadi di Jawa. Angka yang tercantum merupakan parameter pemodelan untuk menggambarkan potensi maksimum dari sumber gempa berdasarkan karakteristik geologi dan seismotektoniknya.

Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, zona subduksi Jawa juga dikaji melalui pembagian segmen yang mempertimbangkan struktur sumber gempa. Kajian tersebut menjadi bagian dari upaya memperbarui pemahaman mengenai bahaya gempa di Indonesia.

Daftar 14 Segmen Megathrust dan Nilai Mmax

Berdasarkan pemetaan yang dirujuk BMKG, 14 segmen megathrust beserta nilai magnitudo maksimum yang diperhitungkan adalah sebagai berikut:

  1. Megathrust Aceh-Andaman: M 9,2
  2. Megathrust Nias-Simeulue: M 8,7
  3. Megathrust Batu: M 7,8
  4. Megathrust Mentawai-Siberut: M 8,9
  5. Megathrust Mentawai-Pagai: M 8,9
  6. Megathrust Enggano: M 8,9
  7. Megathrust Jawa: M 9,1
  8. Megathrust Jawa bagian barat: M 8,9
  9. Megathrust Jawa bagian timur: M 8,9
  10. Megathrust Sumba: M 8,9
  11. Megathrust Sulawesi Utara: M 8,5
  12. Megathrust Palung Cotabato: M 8,3
  13. Megathrust Filipina Selatan: M 8,2
  14. Megathrust Filipina Tengah: M 8,1

Tiga segmen terakhir berada di kawasan Filipina, tetapi tetap diperhitungkan dalam pemetaan karena kedekatan dan potensi pengaruhnya terhadap wilayah Indonesia.

Nilai Mmax Bukan Prediksi Gempa

BMKG menekankan pentingnya memahami arti nilai Mmax secara tepat. Angka tersebut tidak dapat digunakan untuk menentukan kapan gempa akan terjadi, baik dalam hitungan hari, bulan maupun tahun.

Mmax merupakan parameter dalam pemodelan sumber gempa yang digunakan untuk menggambarkan skenario magnitudo maksimum berdasarkan karakteristik suatu segmen. Dengan demikian, angka tersebut lebih tepat digunakan untuk kebutuhan analisis bahaya dan perencanaan mitigasi.

BMKG juga pernah meluruskan anggapan bahwa pembahasan mengenai megathrust berarti gempa besar sudah akan terjadi dalam waktu dekat. Informasi mengenai potensi tersebut merupakan bagian dari edukasi dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa bumi.

Peta Gempa Menjadi Dasar Mitigasi Bencana

Informasi mengenai sumber gempa dan nilai Mmax memiliki peran penting dalam pengurangan risiko bencana. Peta sumber dan bahaya gempa digunakan sebagai salah satu rujukan untuk memahami karakteristik ancaman di berbagai wilayah.

Data tersebut juga dapat mendukung perencanaan infrastruktur, penyusunan standar bangunan tahan gempa, tata ruang, hingga perencanaan evakuasi di kawasan yang memiliki risiko gempa dan tsunami.

Pusat Studi Gempa Nasional menjelaskan bahwa Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 merupakan acuan nasional dalam penetapan beban gempa dan disusun berdasarkan pembaruan analisis sumber gempa serta data seismotektonik.

Kesiapsiagaan Tetap Menjadi Langkah Utama

Keberadaan zona megathrust tidak seharusnya membuat masyarakat panik. Informasi mengenai potensi gempa justru dapat digunakan untuk meningkatkan kesiapan menghadapi bencana.

Masyarakat dapat mempelajari jalur evakuasi, mengetahui lokasi titik kumpul, memahami langkah perlindungan diri saat gempa, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah.

Dengan pemahaman tersebut, informasi mengenai 14 zona megathrust dapat ditempatkan sebagai bagian dari edukasi kebencanaan. Potensi magnitudo yang tercantum dalam peta merupakan hasil kajian ilmiah untuk kebutuhan mitigasi, bukan kepastian bahwa gempa dengan kekuatan tersebut akan terjadi.