— China resmi menayangkan Beyond Wukong, serial drama berdurasi penuh yang diproduksi menggunakan kecerdasan buatan (AI). Serial tersebut mulai tayang pada 2 September 2026 di jam utama salah satu saluran televisi satelit China.

Beyond Wukong menjadi perhatian karena disebut sebagai drama full-length pertama yang sepenuhnya diproduksi dengan teknologi AI dan berhasil masuk ke slot prime time televisi.

Adaptasi Baru dari Journey to the West

Beyond Wukong mengambil inspirasi dari novel klasik Journey to the West karya dari era Dinasti Ming. Ceritanya menghadirkan babak baru dalam semesta kisah tersebut.

Kisahnya berlatar 1.000 tahun setelah kemenangan Kera Sakti. Cerita berfokus pada seekor kera batu muda bernama Sun Xiaosheng bersama para rekannya yang menjalani perjalanan baru untuk memulihkan tatanan kosmik.

Dari sisi visual, drama ini memadukan estetika lukisan tradisional China dengan teknologi digital modern. Pendekatan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama Beyond Wukong dalam menghadirkan kembali kisah klasik melalui teknologi AI.

Raih Perhatian di Penayangan Perdana

Beyond Wukong disebut langsung mencatat hasil yang kuat pada penayangan perdananya. Laporan Global Times menyebut rating real-time puncaknya dan pangsa pasar berada di atas 1,5 persen, sekaligus menempatkannya di posisi pertama di antara program televisi satelit provinsi pada slot waktu yang sama.

Keberhasilan tersebut membuat Beyond Wukong menjadi salah satu proyek AI yang mendapat perhatian besar dalam industri televisi China.

Jadi Proyek Percontohan Aturan Penyiaran Baru

Penayangan Beyond Wukong juga berkaitan dengan kebijakan baru regulator penyiaran China yang dikenal sebagai 21 Broadcasting Guidelines.

Aturan tersebut memperkenalkan mekanisme “tinjau sambil tayang”. Melalui skema ini, produksi dan evaluasi drama televisi dapat dilakukan secara bertahap, sehingga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada proses peninjauan sebelum seluruh episode ditayangkan.

Beyond Wukong menjadi proyek percontohan dalam penerapan mekanisme tersebut.

Memicu Perdebatan soal Peran AI

Penggunaan AI dalam produksi drama tersebut memicu perdebatan di media sosial China. Sebagian penonton memuji visual digital serta pendekatan baru yang dinilai mampu menyegarkan kembali kekayaan budaya klasik.

Namun, tidak semua tanggapan positif. Sejumlah pihak mempertanyakan kemampuan AI dalam menghadirkan kedalaman emosi, penokohan, dan makna budaya dalam sebuah cerita.

Kekhawatiran lain berkaitan dengan dampak penggunaan AI terhadap tenaga kerja kreatif di industri film dan televisi. Kemunculan produksi seperti Beyond Wukong menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana teknologi AI dapat menggantikan peran manusia dalam proses kreatif.

AI Dinilai Belum Bisa Menggantikan Peran Manusia

Chief Director Beyond Wukong, Li Dongshen, menegaskan bahwa produksi drama tersebut tetap berlandaskan kreativitas manusia. Menurutnya, seluruh alur cerita utama, perkembangan karakter, serta ekspresi emosional dirancang dan disempurnakan oleh penulis manusia.

AI digunakan untuk membantu proses penciptaan visual dan mengoptimalkan alur cerita. Li menilai belum ada model AI yang matang untuk sepenuhnya menjalankan pekerjaan penulisan skenario secara mandiri.

Menurut Li, proses kreatif tetap dikendalikan oleh pemikiran dan penilaian estetika manusia.

Keterbatasan AI dalam Produksi Drama

Penggunaan AI juga mengubah cara kerja produksi. Dalam proses konvensional, naskah biasanya harus diselesaikan sebelum proses pengambilan gambar karena perubahan naskah setelah produksi dapat membutuhkan biaya besar.

Dengan AI, perubahan naskah menjadi lebih mudah dilakukan. Proses kreatif pun dapat berkembang seiring produksi berlangsung.

Namun, teknologi tersebut tetap memiliki keterbatasan. AI dapat menghasilkan solusi yang secara visual terlihat menarik tetapi tidak selalu masuk akal secara logika. Karena itu, pembuat drama tetap membutuhkan intuisi dan penilaian estetika manusia untuk menentukan bagian yang sesuai atau tidak.

Tim produksi juga memilih menggunakan pengisi suara manusia, bukan sintesis suara AI, guna menghindari persoalan hak cipta sekaligus menjaga keaslian. Sementara itu, desain seni utama tetap dikerjakan oleh tim manusia.

AI Masih Menghadapi Tantangan dalam Penokohan

Peneliti budaya dan Associate Professor Nanjing Normal University, Zhang Peng, menilai Beyond Wukong menandai masuknya AIGC atau artificial intelligence-generated content ke dalam industri televisi arus utama setelah sebelumnya lebih banyak digunakan dalam video pendek daring.

Zhang mengapresiasi kemampuan AI dalam menciptakan adegan mitologis berskala besar dengan estetika digital China. Namun, ia juga menyoroti sejumlah kelemahan, seperti ekspresi mikro yang kaku, perkembangan emosi yang cenderung formulaik, serta kurangnya ketegangan yang biasanya muncul dari penampilan aktor manusia.

Menurutnya, mengadaptasi karya klasik bukan sekadar menyusun kembali sebuah cerita. Adaptasi juga membutuhkan pengalaman kehidupan nyata untuk menghadirkan persoalan manusia secara mendalam.

Masa Depan Film AI Tetap Membutuhkan Manusia

Direktur Institute of International Communication pada Development Research Center of National Radio and Television Administration, Zhu Xinmei, mengatakan masa depan produksi film berbasis AIGC berada pada kolaborasi antara manusia dan AI.

Dalam pendekatan tersebut, manusia tetap memegang kendali atas makna budaya dan orientasi nilai, sementara AI berperan membantu meningkatkan efisiensi serta mendukung penyajian visual.

Kehadiran Beyond Wukong akhirnya tidak hanya menjadi eksperimen teknologi dalam produksi drama, tetapi juga membuka perdebatan mengenai batas kemampuan AI dalam industri kreatif dan seberapa besar peran manusia masih dibutuhkan dalam menghasilkan karya yang memiliki kedalaman budaya dan emosional.