Saham

Danantara Nilai IHSG Anjlok Sebagai Peluang Investasi Jangka Panjang, Siap Bidik Saham Undervalued

Danantara melihat kejatuhan IHSG sebagai peluang investasi jangka panjang dengan membidik saham berfundamental kuat yang valuasinya tertekan.

Danantara Nilai IHSG Anjlok Sebagai Peluang Investasi Jangka Panjang, Siap Bidik Saham Undervalued
Foto: ANTARA/Muhammad Heriyanto

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memandang kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai kesempatan untuk memperbesar investasi di pasar modal Indonesia. Penurunan harga saham dinilai membuka peluang bagi lembaga pengelola investasi negara tersebut untuk masuk ke perusahaan dengan fundamental kuat dan valuasi yang lebih menarik.

CEO Danantara Rosan Roeslani menegaskan strategi lembaganya berorientasi pada investasi jangka panjang, bukan mengejar keuntungan dari pergerakan harga saham dalam waktu singkat. Pandangan tersebut disampaikan ketika IHSG mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat (16/10/2026), menyusul pengumuman terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Danantara Siap Manfaatkan Koreksi Harga Saham

Pada pembukaan perdagangan Jumat, IHSG sempat anjlok 469,86 poin atau 8,01% ke level 5.393,92. Tekanan tersebut membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit.

Di tengah gejolak pasar, Rosan justru melihat penurunan valuasi saham sebagai peluang untuk menempatkan modal pada emiten yang memiliki prospek jangka panjang. Menurutnya, pelemahan harga tidak selalu mencerminkan memburuknya kinerja fundamental perusahaan.

Rosan menilai pergerakan saham juga dapat dipengaruhi faktor teknis, rumor, serta sentimen pasar. Karena itu, koreksi harga perlu dilihat dengan mempertimbangkan kondisi bisnis dan kekuatan keuangan perusahaan.

“Kita harus tetap melihat ini suatu opportunity, optimis, kami yakini, dan kami dari Danantara siap masuk,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Meski menyatakan kesiapan memanfaatkan peluang, Danantara belum mengumumkan emiten yang akan menjadi sasaran investasi maupun nilai dana yang berpotensi ditempatkan di pasar saham.

Saham Perbankan hingga Infrastruktur Jadi Perhatian

Sektor perbankan menjadi salah satu bidang yang dicermati Danantara. Rosan menyebut sejumlah bank masih mempunyai fundamental yang solid, meskipun valuasi sahamnya mengalami penurunan.

Ia menyoroti rasio price to book value (PBV) beberapa perusahaan perbankan yang berpotensi berada di bawah satu kali. Valuasi tersebut lebih rendah dibandingkan median perusahaan sejenis di kawasan regional.

Selain perbankan, Danantara juga melihat peluang pada sektor infrastruktur dan telekomunikasi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keputusan investasi tidak hanya bertumpu pada penurunan harga saham, tetapi juga mempertimbangkan potensi bisnis perusahaan dalam jangka panjang.

Tekanan IHSG Jadi Momentum Investasi

Koreksi pasar kali ini terjadi setelah MSCI membuka konsultasi publik mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Pengumuman tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap transparansi kepemilikan saham dan ketersediaan saham beredar di publik atau free float.

Di tengah kondisi tersebut, Danantara menegaskan fokusnya pada investasi berkelanjutan. Sebagai lembaga pengelola investasi strategis negara, Danantara memiliki peran dalam mengoptimalkan aset negara dan BUMN.

Namun, peluang dari kejatuhan IHSG tetap perlu dinilai secara cermat. Bagi Danantara, koreksi pasar menjadi momentum untuk mencari aset dengan valuasi menarik, sementara realisasi investasi akan bergantung pada analisis fundamental dan pertimbangan strategis lembaga tersebut.