— Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di jalur positif belum sepenuhnya menggambarkan kondisi keuangan seluruh rumah tangga. Di tengah konsumsi yang tumbuh, muncul kekhawatiran mengenai kemampuan masyarakat, khususnya kelas menengah dan pekerja, dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Perbedaan pandangan muncul antara kalangan ekonom dan serikat pekerja dengan pemerintah. Sebagian menilai tekanan daya beli mulai terlihat dari perubahan pola belanja dan kemampuan menabung, sedangkan pemerintah berpendapat konsumsi tetap terjaga serta perubahan yang terjadi lebih berkaitan dengan pergeseran perilaku masyarakat.

Pertumbuhan Ekonomi Belum Tentu Menjamin Daya Beli

Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (Aspirasi) Mirah Sumirat menilai pertumbuhan ekonomi perlu diukur melalui dampaknya terhadap kesejahteraan pekerja. Menurutnya, pendapatan yang sebagian besar terserap untuk kebutuhan pokok membuat masyarakat terpaksa menunda pembelian pakaian, rekreasi, perbaikan rumah, hingga sejumlah kebutuhan pendidikan dan kesehatan.

Mirah menegaskan, pertumbuhan berkualitas seharusnya diikuti peningkatan upah riil, ketersediaan pekerjaan formal yang layak, pembagian hasil ekonomi yang adil, serta perlindungan sosial memadai. Jika tekanan berlanjut, pengurangan belanja masyarakat dapat memengaruhi penjualan usaha kecil, produksi perusahaan, hingga meningkatkan risiko pengurangan jam kerja dan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ia mendorong pemerintah memantau harga kebutuhan pokok, pendapatan riil, utang rumah tangga, dan kondisi ketenagakerjaan secara bersamaan agar tekanan ekonomi tidak tertutupi indikator agregat.

Ekonom Soroti Konsumsi dan Kemampuan Menabung

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,06% pada triwulan II-2026 perlu ditelaah berdasarkan distribusi pendapatan dan sumber pembiayaannya. Konsumsi dapat bertahan karena rumah tangga mengurangi tabungan, memilih produk lebih murah, menunda pembelian barang tahan lama, atau memanfaatkan kredit.

Survei Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada Agustus 2026 juga disebut menunjukkan peningkatan kemauan menabung, tetapi penurunan indeks kemampuan menabung. Kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa arus kas sebagian rumah tangga mulai mengetat.

Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet turut mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi 5,29% pada triwulan II-2026 ditopang konsumsi pemerintah yang meningkat 15,97%. Menurutnya, konsumsi agregat yang positif belum otomatis mencerminkan kekuatan belanja kelas menengah.

Pemerintah Menilai Konsumsi Tetap Terjaga

Berbeda dengan pandangan tersebut, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Drajad Wibowo membantah anggapan bahwa daya beli masyarakat sedang melemah. Ia menunjuk pertumbuhan sektor transportasi dan komunikasi sebesar 6,3% pada semester I-2026 serta sektor restoran dan hotel yang mencapai 6,91%.

Aktivitas pembayaran digital juga menunjukkan peningkatan. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, tumbuh 40,36% secara tahunan. Transaksi QRIS bahkan meningkat 67,22%.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan konsumsi rumah tangga masih tumbuh 5,06% pada triwulan II-2026. Menurutnya, data juga mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin mengutamakan mobilitas dan perjalanan.

Perbedaan pandangan ini menunjukkan pentingnya membaca pertumbuhan konsumsi bersama indikator pendapatan, tabungan, dan distribusi belanja untuk memahami kondisi ekonomi rumah tangga secara lebih menyeluruh.