TOPIK.ID — Fenomena hujan meteor kembali menghiasi langit Indonesia sepanjang Oktober 2026. Dua fenomena astronomi yang menjadi perhatian bulan ini adalah hujan meteor Draconid dan Orionid, yang memiliki jadwal puncak serta karakteristik pengamatan berbeda.
Hujan meteor Draconid telah mencapai puncak aktivitas pada 8–9 Oktober 2026. Sementara itu, masyarakat Indonesia masih berkesempatan menyaksikan hujan meteor Orionid yang diperkirakan mencapai puncaknya pada malam Rabu, 21 Oktober hingga dini hari Kamis, 22 Oktober 2026.
Berdasarkan informasi astronomi dari Time and Date serta Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), hujan meteor Orionid berpotensi menghasilkan sekitar 10–20 meteor per jam dalam kondisi pengamatan yang ideal.
Fenomena tersebut dapat diamati dari belahan Bumi utara maupun selatan, termasuk Indonesia. Namun, jumlah meteor yang terlihat akan bergantung pada kondisi cuaca, tingkat polusi cahaya, serta posisi Bulan ketika pengamatan berlangsung.
Kapan Puncak Hujan Meteor di Indonesia?
Sepanjang Oktober 2026, terdapat dua hujan meteor yang menjadi perhatian, yakni Draconid dan Orionid.
Berikut jadwal aktivitas dan puncak kedua fenomena tersebut.
| Hujan Meteor | Periode Aktif | Puncak Aktivitas |
|---|---|---|
| Draconid | 6–10 Oktober 2026 | 8–9 Oktober 2026 |
| Orionid | 2 Oktober–7 November 2026 | 21–22 Oktober 2026 |
Hujan meteor Draconid telah melewati puncak aktivitasnya. Meski demikian, fenomena ini masih berada dalam periode aktif hingga Sabtu, 10 Oktober 2026.
Draconid merupakan hujan meteor yang memiliki titik pancar di sekitar rasi bintang Draco atau Naga. Fenomena ini lebih mudah diamati dari wilayah belahan Bumi utara, terutama pada malam hari setelah Matahari terbenam.
Berbeda dengan Draconid, hujan meteor Orionid memiliki jangkauan pengamatan lebih luas karena dapat terlihat dari belahan Bumi utara maupun selatan.
Puncak Orionid pada 21–22 Oktober 2026 menjadi kesempatan berikutnya bagi masyarakat Indonesia untuk mengamati fenomena hujan meteor.
Jam Berapa Hujan Meteor Orionid Bisa Dilihat di Indonesia?
Waktu pengamatan hujan meteor Orionid yang disarankan di Indonesia adalah setelah tengah malam hingga menjelang Matahari terbit pada 22 Oktober 2026.
Di wilayah Jakarta dan sekitarnya, titik pancar meteor Orionid diperkirakan mulai muncul di atas cakrawala timur sekitar pukul 22.20 WIB. Posisinya kemudian semakin tinggi seiring berjalannya malam.
Pengamatan berpeluang lebih baik pada dini hari, terutama sekitar pukul 02.00–05.00 WIB, ketika rasi Orion berada lebih tinggi di langit.
Berikut perkiraan waktu pengamatan berdasarkan zona waktu Indonesia.
| Wilayah | Waktu Pengamatan yang Disarankan |
|---|---|
| WIB | 02.00–05.00 WIB |
| WITA | 03.00–06.00 WITA |
| WIT | Menjelang dini hari hingga sebelum fajar, menyesuaikan waktu setempat |
Rentang waktu tersebut merupakan panduan pengamatan, bukan waktu pasti setiap meteor akan muncul. Kondisi terbaik di setiap daerah dapat berbeda karena posisi geografis dan waktu terbit Matahari.
Selain itu, cahaya Bulan yang cukup terang pada periode puncak Orionid tahun ini berpotensi mengurangi jumlah meteor redup yang dapat terlihat.
Di Mana Lokasi Terbaik Melihat Hujan Meteor di Indonesia?
Hujan meteor Orionid pada dasarnya dapat diamati dari berbagai wilayah Indonesia selama kondisi langit cerah dan lokasi pengamatan memiliki tingkat polusi cahaya rendah.
Masyarakat tidak harus datang ke observatorium atau menggunakan peralatan astronomi khusus untuk menyaksikannya.
Beberapa jenis lokasi yang dapat dipilih untuk pengamatan antara lain:
- Daerah pedesaan: Kawasan yang jauh dari lampu perkotaan memberikan peluang lebih baik untuk melihat meteor redup.
- Area perbukitan: Lokasi dengan pandangan langit terbuka dapat menjadi pilihan selama cuaca cerah dan akses menuju lokasi aman.
- Kawasan pantai: Pantai yang minim penerangan buatan dan memiliki cakrawala luas dapat dimanfaatkan untuk pengamatan.
- Lapangan terbuka: Area luas tanpa banyak bangunan atau pepohonan tinggi memungkinkan pengamat melihat lebih banyak bagian langit.
- Kawasan pegunungan: Lokasi dengan polusi cahaya rendah dapat memberikan kondisi pengamatan lebih baik apabila tidak tertutup awan.
Untuk masyarakat yang berada di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar, pengamatan akan lebih menantang karena banyaknya cahaya buatan pada malam hari.
Karena itu, memilih lokasi di pinggiran kota atau kawasan dengan penerangan rendah dapat meningkatkan peluang melihat meteor.
Perlu diperhatikan bahwa lokasi-lokasi tersebut merupakan rekomendasi berdasarkan karakteristik lingkungan, bukan jaminan bahwa hujan meteor pasti terlihat.
Ke Arah Mana Melihat Hujan Meteor Orionid?
Hujan meteor Orionid memiliki titik pancar atau radiant di sekitar rasi bintang Orion, yang di Indonesia juga dikenal sebagai rasi Waluku.
Pada awal kemunculannya pada malam hari, rasi tersebut dapat dicari di sekitar arah timur. Posisinya kemudian bergerak semakin tinggi hingga menjelang pagi.
Meski demikian, meteor tidak hanya muncul tepat di sekitar rasi Orion. Kilatan cahaya meteor dapat terlihat di berbagai bagian langit.
Oleh sebab itu, pengamat disarankan memilih tempat dengan pandangan seluas mungkin dan tidak hanya memusatkan perhatian pada satu titik.
Pengamatan juga tidak memerlukan teleskop maupun teropong karena meteor bergerak sangat cepat. Mata telanjang justru lebih sesuai untuk menangkap kilatan cahaya yang muncul secara tiba-tiba.
Berapa Banyak Meteor yang Bisa Terlihat?
Hujan meteor Draconid umumnya menghasilkan sekitar lima meteor per jam dalam kondisi pengamatan ideal, meskipun aktivitasnya dapat berubah dari tahun ke tahun.
Sementara itu, Orionid diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 10–20 meteor per jam saat mencapai puncaknya di bawah langit yang benar-benar gelap.
Angka tersebut bukan berarti setiap pengamat di Indonesia pasti dapat melihat jumlah meteor yang sama.
Polusi cahaya, awan, cahaya Bulan, serta posisi titik pancar meteor dapat menyebabkan jumlah meteor yang terlihat jauh lebih sedikit.
Pada Oktober 2026, cahaya Bulan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika mengamati puncak Orionid.
Cara Menyaksikan Hujan Meteor dengan Mata Telanjang
Untuk meningkatkan peluang menyaksikan hujan meteor, masyarakat dapat melakukan sejumlah persiapan sederhana.
Pertama, periksa prakiraan cuaca sebelum menentukan lokasi pengamatan. Langit tanpa awan merupakan syarat penting agar kilatan meteor dapat terlihat.
Kedua, hindari lokasi dengan penerangan berlebihan. Cahaya dari lampu jalan, bangunan, dan kendaraan dapat mengurangi kemampuan mata melihat meteor yang relatif redup.
Ketiga, berikan waktu sekitar 15–30 menit agar mata beradaptasi dengan kondisi gelap. Selama periode tersebut, sebaiknya hindari menatap layar ponsel yang terlalu terang.
Keempat, gunakan kursi santai atau alas duduk yang nyaman agar dapat memandang langit dalam waktu cukup lama tanpa harus terus-menerus mendongak.
Terakhir, bersabarlah selama pengamatan. Meteor muncul secara tidak teratur sehingga pengamat mungkin perlu menunggu sebelum melihat kilatan cahaya.
Hujan Meteor Orionid Berasal dari Komet Halley
Orionid merupakan hujan meteor tahunan yang berasal dari serpihan material Komet Halley atau 1P/Halley.
Ketika komet bergerak mengelilingi Matahari, objek tersebut meninggalkan jejak debu dan partikel kecil di sepanjang lintasannya.
Saat Bumi melintasi jalur yang dipenuhi material tersebut, sebagian partikel memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi.
Partikel itu kemudian memanas dan menghasilkan cahaya terang yang terlihat sebagai meteor.
Menurut NASA, meteor Orionid dapat memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik. Kecepatan tersebut membuat Orionid dikenal sebagai salah satu hujan meteor yang bergerak sangat cepat.
Dengan puncak aktivitas pada 21–22 Oktober 2026, masyarakat Indonesia masih memiliki kesempatan menyaksikan fenomena astronomi ini. Pemilihan lokasi yang gelap, cuaca cerah, serta waktu pengamatan menjelang pagi menjadi faktor utama untuk memperoleh pengalaman terbaik.
