Sepakbola

FIFA Jatuhkan Denda Rp361 Juta kepada Spanyol Imbas Chant Anti-Muslim

FIFA mendenda Spanyol Rp361 juta dan memerintahkan penutupan 15 persen tribun kandang akibat chant anti-Muslim saat melawan Mesir.

FIFA Jatuhkan Denda Rp361 Juta kepada Spanyol Imbas Chant Anti-Muslim
Foto: AFP/CRISTINA QUICLER

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menjatuhkan sanksi kepada Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF) setelah suporter melontarkan nyanyian bernada anti-Muslim dalam pertandingan melawan Mesir pada April 2026. Hukuman tersebut mencakup denda 20.000 dolar AS atau sekitar Rp361 juta serta penutupan sebagian area stadion saat Spanyol menjalani pertandingan internasional kandang berikutnya.

Mengutip Reuters, RFEF telah mengajukan banding atas keputusan tersebut, tetapi FIFA menolaknya. Federasi sepak bola Spanyol itu dikabarkan masih mempertimbangkan langkah lanjutan melalui Pengadilan Arbitrase Olahraga atau Court of Arbitration for Sport (CAS) karena menilai sanksi yang dijatuhkan terlalu berat.

Chant Suporter Picu Sanksi FIFA

Insiden yang menjadi dasar hukuman terjadi ketika Spanyol menghadapi Mesir di RCDE Stadium, Barcelona. Dalam pertandingan tersebut, sejumlah suporter tuan rumah menyanyikan chant bernada xenofobia yang menyasar identitas keagamaan pendukung lawan.

Peringatan melalui pengeras suara stadion tidak menghentikan nyanyian tersebut. Sebagian suporter bahkan meledek lagu kebangsaan Mesir. Salah satu chant yang terdengar berbunyi, “Kalau tak melompat, berarti Muslim.”

Peristiwa itu turut mendapat perhatian karena Lamine Yamal, pemain tim nasional Spanyol yang beragama Islam, menunjukkan ketidakpuasan terhadap perilaku suporter. Setelah pertandingan, ia mengunggah foto di media sosial yang menegaskan kebanggaannya sebagai seorang Muslim.

Kasus tersebut kemudian menjadi perhatian FIFA dalam penegakan aturan mengenai diskriminasi dan perilaku suporter di pertandingan internasional.

RFEF Pertanyakan Dasar Hukuman

Dalam pembelaannya, RFEF berpendapat bahwa penggunaan kata “Muslim” tidak dengan sendirinya merupakan ungkapan yang menghina atau merendahkan. Federasi itu juga menilai insiden tersebut semestinya ditinjau berdasarkan Pasal 17 FIFA, yang mengatur pesan politik, ideologis, keagamaan, atau pesan yang menyinggung.

RFEF membedakan ketentuan tersebut dari Pasal 15, yang berkaitan dengan diskriminasi dan pelecehan rasial. Namun, komite disiplin FIFA menolak argumentasi itu.

Menurut pertimbangan FIFA sebagaimana dilaporkan Reuters, pelanggaran diskriminasi tidak harus selalu memuat kata-kata kasar secara eksplisit. Sebuah istilah juga dapat menjadi diskriminatif apabila digunakan dalam konteks penghinaan, ejekan, atau untuk menempatkan kelompok tertentu pada posisi yang lebih rendah.

Atas dasar tersebut, FIFA mempertahankan sanksi denda dan pembatasan penggunaan stadion bagi Spanyol.

Spanyol Siapkan Langkah Banding Berikutnya

Pejabat senior RFEF menyatakan bahwa federasinya merasa telah mengambil tindakan segera setelah mengetahui kejadian tersebut. Mereka juga menilai langkah yang dilakukan sudah cukup untuk mencegah pengulangan insiden dan menunjukkan penolakan terhadap perilaku diskriminatif.

“Sepanjang proses persidangan, RFEF tetap berpendapat bahwa mereka bertindak segera, cermat, dan efektif sejak pertama kali mengetahui insiden tersebut,” kata seorang pejabat tinggi RFEF kepada Reuters.

RFEF turut menyebut penonton yang hadir di stadion telah menunjukkan ketidaksetujuan terhadap chant tersebut. Meski demikian, FIFA tetap memberlakukan keputusan disiplin yang telah ditetapkan.

Perkembangan selanjutnya bergantung pada langkah hukum yang ditempuh RFEF. Jika banding lanjutan diajukan, federasi Spanyol itu akan berupaya menggugat keputusan yang berdampak pada keuangan sekaligus penggunaan stadion untuk pertandingan internasional kandang berikutnya.