— Film Hasut yang tayang di bioskop mulai 8 Oktober 2026 membawa kesegaran baru untuk genre horor Indonesia. Film ini tidak mengandalkan penampakan supernatural yang sudah sering dijumpai, melainkan mengeksplorasi sisi horor-misteri yang memicu efek psikologis bagi penontonnya.

Karya ini merupakan debut penyutradaraan bagi Ilya Sigma, seorang penulis naskah film yang telah berkarier sejak 2010. Melalui film panjang ini, Ilya mengangkat tema yang dekat dengan latar belakangnya, yaitu proses penyembuhan luka batin.

Eksplorasi mengenai trauma masa lalu di dalam film tersebut diwakilkan melalui empat karakter utama. Tokoh-tokoh ini diperankan oleh Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova, yang digambarkan membawa beban masa lalu ketika memasuki sebuah kawasan hutan dan mendengarkan suara-suara asing.

Ilya merancang ketakutan dalam film ini melalui elemen yang tidak terlihat. Eksplorasi permainan suara menjadi sumber teror utama yang dihadirkan untuk menciptakan rasa tidak nyaman.

“Secara personal, aku lebih takut sama sesuatu hal yang aku bayangkan daripada yang aku lihat secara visual atau tampak. Karena ketika suara itu ada ruang di kepala kita, di ruang itu kita membayangkan, seperti apa bentuknya atau dari mana asalnya?” ujar Ilya Sigma dalam keterangan tertulis.

Pemanfaatan HT sebagai Sumber Teror

Dalam merancang teror berbasis audio tersebut, Ilya memanfaatkan perangkat Handy Talkie atau HT sebagai medium penyampaian suara yang meragukan. Ia mengoptimalkan elemen suara yang sudah ada secara alamiah pada perangkat itu, seperti suara statik, gangguan bising, serta frekuensi yang terputus.

“Jadi HT itu menurut aku jadi medium yang sangat menarik. Karena kalau ada suara dari HT terkadang membuat aku berpikir, ‘Ini yang ngomong siapa ya?’ Dan biasanya dari suara-suara yang keluar itu kita sudah membayangkan bentuknya seperti apa,” jelas Ilya.

Refleksi Pribadi Sang Sutradara

Sebelum mengarahkan film ini, Ilya dikenal sebagai penulis naskah sejumlah sinema panjang seperti Catatan Harian Si Boy, Rectoverso, hingga A Man Called Ahok. Langkah ini menjadi babak baru dalam perjalanan kreatifnya di industri perfilman nasional.

“Film ini juga menjadi refleksi bagiku secara personal. Aku sudah lama juga sebenarnya di industri film. Dan yang sering menghambat itu sebenarnya ketika hasutan itu masuk ke kepala kita dan kita yakin sekali itu suara kita sendiri. Padahal, itu hasutan-hasutan yang muncul dari luar dan bisa menghambat kita untuk memulai dan melakukan sesuatu. Seperti saat aku membuat film feature pertamaku, aku merasa sepertinya aku tidak perlu mendengarkan hasutan-hasutan itu semua,” ungkap Ilya.

Film Hasut diproduksi oleh Tuta Films dengan produser Putrama Tuta dan Siera Tamihardja, serta ko-produser Nick Musa, serta didukung oleh jajaran pemeran utamanya.