Harga Bitcoin kembali tertekan setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan kenaikan yang melampaui perkiraan pasar. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), sekaligus memperbesar tekanan terhadap aset kripto di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pada Jumat (16/10/2026), Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 82.045 atau sekitar Rp 1,4 miliar per BTC. Penurunan ini terjadi setelah harganya sempat mendekati US$ 90.000 pada September 2026, sebelum kembali merosot di bawah US$ 80.000. Di tengah gejolak tersebut, CEO BlackRock Larry Fink mengingatkan besarnya risiko yang ditimbulkan oleh utang pemerintah Amerika Serikat.
Larry Fink Soroti Pembengkakan Utang AS
Fink menilai akumulasi utang pemerintah AS yang kini mencapai sekitar US$ 40 triliun dapat memberikan tekanan besar terhadap perekonomian. Kebutuhan pembiayaan pemerintah yang terus meningkat juga berpotensi memengaruhi permintaan kredit dan pasar obligasi negara.
Ia menyoroti pertumbuhan utang sebesar US$ 32 triliun dalam kurun waktu 26 tahun. Menurut Fink, pemerintah terus membutuhkan pembiayaan dalam jumlah besar, sementara nilai lelang obligasi negara semakin meningkat.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika BlackRock merilis laporan keuangan kuartal III-2026 yang melampaui ekspektasi pasar. Fink juga mengingatkan ketergantungan ekonomi AS terhadap belanja modal untuk membangun pusat data berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Apabila investasi infrastruktur AI melambat atau terhenti, dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor ekonomi yang saat ini bergantung pada ekspansi teknologi tersebut.
Arthur Hayes Prediksi Peluang dari Penyelamatan AI
Di sisi lain, trader kripto Arthur Hayes melihat kemungkinan bahwa tekanan terhadap perusahaan teknologi pada akhirnya memicu intervensi atau bailout. Menurutnya, suntikan likuiditas untuk menyelamatkan sektor tersebut berpotensi memberikan keuntungan bagi Bitcoin dan pasar kripto.
Namun, peluang itu masih dibayangi risiko koreksi dalam waktu dekat. Penjualan saham perusahaan teknologi besar, inflasi yang lebih tinggi, serta kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Analis FxPro Alex Kuptsikevich mengatakan tekanan terhadap kripto meningkat setelah inflasi inti AS melampaui perkiraan. Ia juga mencatat indeks sentimen kripto turun ke angka 53, menjadi level terendah sejak pertengahan September 2026.
Bitcoin Kian Sensitif terhadap Kebijakan The Fed
Kuptsikevich menjelaskan bahwa Bitcoin sudah menghadapi tekanan jual sebelum data inflasi diumumkan. Upaya menembus US$ 84.000 gagal bertahan, sementara aksi jual aset berisiko mendorong harganya menembus rata-rata pergerakan 50 hari dan menyentuh US$ 80.400.
Perubahan ini memperlihatkan semakin eratnya hubungan Bitcoin dengan pasar keuangan tradisional. Masuknya investor institusional melalui produk exchange-traded fund (ETF) membuat pergerakan aset kripto semakin dipengaruhi sentimen pasar modal.
Ketika inflasi meningkat dan suku bunga berpotensi naik, obligasi pemerintah serta dolar AS dapat menjadi lebih menarik bagi investor. Akibatnya, aliran dana ke aset berisiko seperti Bitcoin berpotensi menyusut.
Besarnya utang pemerintah AS dan kebutuhan pendanaan sektor AI turut menambah ketidakpastian likuiditas. Karena itu, arah inflasi dan keputusan The Fed akan menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan Bitcoin selanjutnya.









