— Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (13/10/2026) pagi. Investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko menjelang publikasi data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Pelemahan tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga meluas ke sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi turut membebani pasar, di tengah sikap pelaku investasi yang menunggu petunjuk terbaru mengenai kondisi ekonomi Negeri Paman Sam.

Harga Bitcoin dan Aset Kripto Berguguran

Mengacu pada data CoinMarketCap pukul 06.45 WIB, Bitcoin terkoreksi 2,23% ke level US$81.743,36 per koin. Dengan asumsi kurs Rp17.891 per dolar AS, harga aset kripto terbesar tersebut setara sekitar Rp1,46 miliar.

Tekanan juga terlihat pada ukuran pasar yang lebih luas. Kapitalisasi pasar kripto global menyusut 2,45% dalam 24 jam terakhir menjadi US$2,76 triliun. Sementara itu, indeks CoinDesk 20, yang mencerminkan pergerakan 20 aset kripto utama, turun 2,49%.

Ethereum (ETH) mencatat penurunan lebih dalam sebesar 3,42% ke US$2.477. Adapun Binance Coin (BNB) melemah 2,78% menjadi US$733. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual menjangkau sejumlah aset utama, bukan hanya Bitcoin.

Mengutip CoinDesk, perdagangan awal pekan berlangsung dalam suasana hati-hati. Bitcoin dan emas sama-sama melemah, sedangkan kontrak berjangka saham teknologi AS bergerak turun tipis. Di pasar energi, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) masih bertahan di atas US$92 per barel karena kekhawatiran terhadap pasokan.

Inflasi AS Jadi Penentu Sentimen Pasar

Perhatian investor kini mengarah pada laporan inflasi AS yang dijadwalkan terbit Rabu. Inflasi inti tahunan diperkirakan berada di level 2,5%, sementara inflasi utama diproyeksikan mencapai 3,7%. Perkiraan tersebut mengindikasikan percepatan inflasi utama dibandingkan bulan sebelumnya.

Angka aktual yang berbeda dari perkiraan dapat mengubah pandangan pasar terhadap kebijakan moneter The Fed. Apabila tekanan harga tercatat lebih tinggi, pelaku pasar mungkin menyesuaikan kembali ekspektasi suku bunga. Kondisi itu berpotensi membatasi minat terhadap instrumen investasi berisiko, termasuk aset kripto.

Dolar AS juga masih menunjukkan kekuatan. Indeks DXY bertahan di atas 102,4, sementara imbal hasil obligasi meningkat seiring penurunan harga obligasi. Kombinasi tersebut menambah tantangan bagi aset yang sensitif terhadap perubahan kondisi keuangan.

Saham Teknologi dan Penambang Bitcoin Ikut Melemah

Tekanan serupa terlihat di pasar saham Amerika Serikat. Indeks Nasdaq mengakhiri perdagangan Senin dengan penurunan 0,7%. Saham perusahaan yang berkaitan dengan kripto serta sejumlah perusahaan penambangan Bitcoin turut mengalami koreksi sekitar 3–4%.

Pergerakan lintas pasar ini memperlihatkan sikap investor yang lebih berhati-hati menjelang rilis indikator ekonomi penting. Arah Bitcoin selanjutnya akan turut dipengaruhi respons pasar terhadap data inflasi serta perubahan ekspektasi kebijakan suku bunga AS.