Market

Harga Bitcoin Turun ke US$81.323, Pasar Kripto Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi dan Yield Treasury Naik

Harga Bitcoin melemah ke US$81.323 pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Tekanan datang dari saham teknologi, kenaikan minyak, dan yield obligasi AS.

Harga Bitcoin Turun ke US$81.323, Pasar Kripto Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi dan Yield Treasury Naik
Foto: Pixabay

Harga Bitcoin kembali berada di zona merah pada perdagangan Sabtu (17/10/2026). Pelemahan pasar saham Amerika Serikat, lonjakan harga minyak dunia, serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menambah tekanan terhadap aset kripto di tengah kekhawatiran inflasi.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 10.10 WIB, Bitcoin (BTC) turun 0,83 persen menjadi US$81.323 per koin atau sekitar Rp1,46 miliar, dengan asumsi kurs Rp18.053 per dolar AS. Pelemahan juga meluas ke sejumlah aset kripto utama lainnya.

Bitcoin dan Aset Kripto Utama Ikut Melemah

Kapitalisasi pasar kripto global menyusut 0,81 persen dalam 24 jam menjadi US$2,73 triliun. Indeks CoinDesk 20 yang mengukur kinerja 20 aset kripto terbesar turut terkoreksi 0,9 persen.

Ethereum (ETH) turun 0,92 persen ke level US$2.417. Sementara itu, Binance Coin (BNB) melemah lebih dalam, yakni 1,14 persen menjadi US$719.

Tekanan tersebut terjadi setelah pasar keuangan tradisional mengalami aksi jual pada Jumat (16/10/2026). Mengutip CoinDesk, Nasdaq Composite merosot 2,14 persen ke 26.140,03, sedangkan S&P 500 turun 1,09 persen menjadi 7.659,44.

Dow Jones Industrial Average juga terkoreksi 175,28 poin atau 0,34 persen ke posisi 52.002,41. Saham teknologi, perusahaan kecerdasan buatan (AI), dan sektor semikonduktor menjadi kelompok yang paling terdampak aksi jual.

Pergerakan di bursa saham tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor dalam menghadapi ketidakpastian inflasi dan kebijakan moneter AS.

Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

Faktor lain yang membebani aset berisiko adalah kenaikan harga energi. Ketegangan di Timur Tengah dan serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia memunculkan kekhawatiran mengenai kelancaran pasokan global.

Reuters melaporkan, harga minyak Brent naik US$3,94 atau 3,7 persen menjadi US$109,86 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat US$3,44 atau 3,5 persen ke level US$101,41 per barel.

Harga energi yang lebih tinggi berpotensi mempertahankan tekanan inflasi di AS. Kondisi tersebut dapat membatasi ruang bagi Federal Reserve atau The Fed untuk menurunkan suku bunga, sehingga aset berisiko seperti Bitcoin berpotensi kehilangan daya tarik.

Yield Treasury Naik, Saham Kripto Tertekan

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dilaporkan berada di sekitar 5,1 persen pada Jumat. Kenaikan yield dapat memperketat kondisi keuangan dan membuat investor lebih selektif dalam menempatkan modal.

Tekanan turut menjalar ke saham perusahaan terkait industri kripto. Strategy turun 9,2 persen, Coinbase melemah 3,5 persen, Circle terkoreksi 4 persen, sedangkan Bullish merosot 5,9 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan Bitcoin masih sensitif terhadap perubahan sentimen di pasar keuangan global. Investor kini mencermati perkembangan harga minyak, arah yield obligasi AS, serta ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed untuk melihat potensi pergerakan pasar kripto selanjutnya.