Topik.id — Prospek harga emas kembali mendapat dukungan setelah muncul sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), mulai mendekati akhir siklus kenaikan suku bunga. Perubahan ekspektasi kebijakan moneter tersebut berpotensi mengurangi tekanan dari imbal hasil obligasi pemerintah AS yang selama ini menjadi tantangan bagi logam mulia.
Head of Research Pluang, Jason Gozali, menilai pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams dapat memengaruhi arah pergerakan emas. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut dan sejumlah faktor fundamental, Pluang tetap memasang target harga emas sebesar US$5.200 per troy ons dalam 12 bulan ke depan.
Sinyal The Fed Beri Ruang bagi Harga Emas
Williams sebelumnya menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga satu kali lagi pada 2026 masih mungkin terjadi. Namun, ia belum melihat alasan kuat untuk melanjutkan kenaikan pada 2027, terutama jika inflasi melambat seiring berkurangnya tekanan tarif impor dan harga energi.
Pernyataan itu memengaruhi pasar obligasi AS. Imbal hasil surat utang pemerintah AS dengan tenor dua tahun bergerak turun, mencerminkan penyesuaian investor terhadap prospek kebijakan moneter.
Jason menjelaskan, ekspektasi kenaikan suku bunga yang bertahan selama beberapa bulan terakhir telah membatasi potensi penguatan emas. Pasalnya, ketika imbal hasil obligasi meningkat, daya tarik emas cenderung berkurang karena aset tersebut tidak memberikan bunga.
Saat ini, pasar masih memperhitungkan kenaikan suku bunga pada Desember serta dua kenaikan tambahan pada tahun berikutnya. Namun, perkiraan tersebut dapat berubah apabila data inflasi AS yang dirilis Rabu (14/10/2026) menunjukkan tekanan harga mulai mereda.
Inflasi AS Jadi Penentu Arah Berikutnya
Menurut Jason, berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga dapat mendorong penurunan imbal hasil obligasi lebih lanjut. Situasi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi harga emas untuk pulih setelah menghadapi tekanan dalam beberapa bulan terakhir.
Secara historis, periode menjelang berakhirnya siklus pengetatan moneter kerap menjadi fase penting bagi pergerakan emas. Meski demikian, arah selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan inflasi dan keputusan para pembuat kebijakan.
Perbedaan pandangan di internal The Fed juga menjadi risiko yang perlu dicermati. Sejumlah pejabat masih menilai kenaikan suku bunga lebih dari satu kali dibutuhkan untuk memastikan inflasi terkendali.
Konflik dan Permintaan AI Jadi Katalis Jangka Panjang
Selain kebijakan suku bunga, Pluang melihat beberapa faktor lain yang berpotensi menopang harga emas. Di antaranya adalah konflik Iran yang belum berakhir, tingginya harga bahan bakar minyak, serta kebutuhan terkait pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Williams menilai permintaan yang berkaitan dengan pengembangan AI masih melampaui pasokan. Kondisi tersebut menjadi salah satu perkembangan ekonomi yang turut diperhatikan pasar.
Dengan kombinasi peluang meredanya tekanan suku bunga dan dukungan faktor fundamental, Pluang mempertahankan pandangan positif terhadap emas. Target US$5.200 per troy ons dalam 12 bulan tetap menjadi proyeksi perusahaan, meskipun realisasinya akan dipengaruhi data ekonomi dan arah kebijakan The Fed.


