— Harga emas dunia memasuki pekan perdagangan 12–16 Oktober 2026 dengan peluang pemulihan yang masih dibayangi risiko koreksi. Setelah sempat merosot hingga US$ 4.066 per ons troi, logam mulia tersebut kembali menguat, tetapi pergerakan itu belum cukup menjadi bukti bahwa tren penurunan telah berakhir.

Pada penutupan Jumat (9/10/2026), harga emas naik 1,47% menjadi US$ 4.194,24 per ons troi. Secara mingguan, emas mencatat kenaikan 1,24%. Perhatian investor kini tertuju pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS), terutama inflasi, yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Level Teknis Menentukan Arah Harga Emas

Senior Technical Strategist StoneX, Michael Boutros, menyebut harga emas telah pulih hampir 3,5% setelah tekanan jual membawanya ke area support teknikal penting. Kendati demikian, penguatan lanjutan membutuhkan kemampuan pembeli mempertahankan level tersebut.

Dalam analisisnya, Boutros menempatkan US$ 4.104 per ons troi sebagai support utama untuk pekan ini. Level itu berdekatan dengan retracement Fibonacci 78,6% dari kenaikan harga pada Juni serta garis tren yang terbentuk sejak Mei 2025.

Apabila harga menembus support tersebut dan ditutup secara mingguan di bawahnya, risiko pelemahan lanjutan akan meningkat. Emas berpotensi menguji US$ 3.943 per ons troi, yang disebut sebagai level terendah tahun ini, sebelum menghadapi area berikutnya di US$ 3.800 per ons troi.

Sebaliknya, pemulihan perlu melewati resistance US$ 4.319 per ons troi untuk memperkuat momentum positif. Target selanjutnya berada di US$ 4.454 per ons troi, dekat dengan rata-rata pergerakan 52 minggu.

Boutros juga menilai penutupan mingguan di atas kisaran US$ 4.493–4.533 akan menjadi sinyal yang lebih kuat bahwa emas mulai membentuk dasar harga dan berpeluang memasuki pembalikan tren jangka lebih panjang.

Data Inflasi AS Jadi Sorotan Investor

Agenda ekonomi AS menjadi faktor penting yang berpotensi menentukan pergerakan emas selama pekan ini. Data indeks harga konsumen (CPI) September dijadwalkan dirilis Rabu (14/10/2026), kemudian disusul laporan penjualan ritel dan indeks harga produsen (PPI) pada Kamis (15/10/2026).

Menurut Boutros, ketiga indikator tersebut dapat mengubah perkiraan pasar terhadap arah suku bunga The Fed, imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan nilai tukar dolar AS.

Peluang kenaikan suku bunga pada Oktober disebut telah turun di bawah 20%. Namun, pasar berjangka masih memperhitungkan probabilitas lebih dari 85% untuk setidaknya satu kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.

Jika inflasi melampaui perkiraan, ekspektasi kebijakan moneter ketat dapat menguat. Imbal hasil obligasi dan dolar AS berpotensi naik, sehingga menjadi tekanan bagi emas yang tidak memberikan bunga.

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan pengetatan moneter dan mendukung harga emas. Karena itu, investor akan mencermati data ekonomi sekaligus level teknikal untuk menilai apakah penguatan terbaru mampu berlanjut.