— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada satu jam perdagangan Selasa (13/10/2026). Indeks turun 47,52 poin atau setara 0,8% ke level 5.888,62, dengan pergerakan sepanjang sesi berada pada rentang 5.828 hingga 5.918.

Pelemahan indeks terjadi ketika mayoritas saham mengalami tekanan jual. Namun, sejumlah emiten justru mencatat kenaikan tajam hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA). Saham PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) termasuk dalam daftar saham dengan penguatan tertinggi, bersama ARTA dan TFCO.

Transaksi Bursa Capai Rp4,12 Triliun

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan pada satu jam pertama mencapai 15,38 miliar lembar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp4,12 triliun dengan frekuensi sebanyak 559.653 kali transaksi.

Pergerakan saham menunjukkan tekanan yang lebih dominan dibandingkan penguatan. Sebanyak 404 saham mengalami penurunan, sedangkan 215 saham berhasil mencatat kenaikan. Adapun 162 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.

Indeks saham unggulan LQ45 juga bergerak melemah. Indeks yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid tersebut turun 1,09%, lebih dalam dibandingkan koreksi IHSG pada periode yang sama.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi pada saham lapis kedua atau ketiga. Sejumlah saham unggulan juga ikut mengalami penurunan di tengah aktivitas perdagangan yang cukup ramai.

ARTA, TFCO, dan BIKE Masuk Top Gainers

Di tengah pelemahan IHSG, tiga saham mencatat kenaikan lebih dari 24% dan berada di jajaran teratas penguatan. Pergerakan tersebut membawa ketiganya mendekati atau menyentuh batas Auto Rejection Atas sesuai ketentuan perdagangan yang berlaku.

Berikut saham dengan kenaikan tertinggi pada periode tersebut:

  1. PT Arthavest Tbk (ARTA) naik 25% menjadi Rp2.150 per saham.
  2. PT Tifico Fiber Indonesia Tbk (TFCO) menguat 24,9% ke level Rp1.605 per saham.
  3. PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) melonjak 24,72% menjadi Rp3.330 per saham.

Kenaikan ketiga saham tersebut berlawanan dengan arah pergerakan indeks utama. Meski demikian, penguatan harga dalam satu sesi belum cukup untuk menggambarkan kinerja saham dalam jangka panjang.

KDTN dan ASMI Tertekan di Jajaran Top Losers

Sementara itu, tekanan jual tajam terjadi pada PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN) dan PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (ASMI). Kedua saham tersebut tercatat masuk jajaran top losers setelah mengalami penurunan hingga batas Auto Rejection Bawah (ARB).

Harga saham KDTN merosot 14,93% menjadi Rp342 per saham. Adapun ASMI terkoreksi 14,71% ke level Rp29 per saham.

Bursa Asia Mayoritas Melemah

Tekanan pasar juga terlihat di sejumlah bursa Asia. Hang Seng Hong Kong turun 0,85%, Shanghai Composite China melemah 0,96%, sedangkan Nikkei Jepang terkoreksi paling dalam sebesar 2,52%.

Berbeda dari ketiganya, indeks Straits Times Singapura justru menguat 0,2%. Pergerakan beragam tersebut menunjukkan bahwa pelemahan pasar regional tidak terjadi secara seragam, meskipun mayoritas indeks bergerak negatif.