ndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada perdagangan Senin (19/10/2026). Dalam satu jam perdagangan, indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) merosot 264,03 poin atau 5,09 persen ke level 4.920, mencerminkan pelemahan yang meluas di pasar saham domestik.
Di tengah aksi jual yang mendominasi perdagangan, sejumlah saham justru bergerak berlawanan arah. Saham PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK), PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE), dan PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) masuk jajaran top gainers setelah harganya melonjak hingga menyentuh batas auto rejection atas (ARA).
IHSG Tertekan, Ribuan Juta Saham Berpindah Tangan
Berdasarkan data BEI, IHSG bergerak di rentang 4.907 hingga 4.974 selama sejam perdagangan. Tekanan jual terlihat dari dominasi saham yang mengalami penurunan dibandingkan saham yang berhasil menguat.
Volume perdagangan tercatat mencapai 13,13 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 7,4 triliun. Adapun frekuensi transaksi mencapai 581.644 kali.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, hanya 39 saham yang berhasil menguat. Sebanyak 744 saham mengalami penurunan, sedangkan 17 saham lainnya bergerak stagnan.
Tekanan juga menjalar ke saham-saham berkapitalisasi besar. Indeks LQ45, yang berisi saham-saham unggulan di pasar modal Indonesia, terkoreksi 5,78 persen.
Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi pada saham lapis kedua dan ketiga, tetapi juga merambah sejumlah saham unggulan yang banyak diperhatikan investor.
TRUK dan PNSE Masuk Daftar Saham Paling Menguat
Ketika IHSG terperosok ke zona merah, beberapa saham justru mencatatkan kenaikan signifikan. Saham PNSE memimpin daftar penguatan setelah melonjak 25 persen ke harga Rp 480 per saham.
Sementara itu, saham TRUK melesat 24,84 persen menjadi Rp 4.020. Saham BSWD juga menguat 20 persen ke level Rp 6.750 per saham.
Ketiga saham tersebut masuk jajaran top gainers setelah kenaikannya mencapai batas auto rejection atas sesuai ketentuan perdagangan yang berlaku.
Pergerakan ini memperlihatkan bahwa pelemahan IHSG tidak membuat seluruh saham bergerak seragam. Di tengah tekanan jual yang luas, beberapa emiten masih mampu mencatatkan kenaikan harga yang tajam.
DSSA, BBCA, hingga BBRI Tertekan
Di sisi berlawanan, sejumlah saham mengalami penurunan tajam hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB). Sebanyak 25 saham tercatat masuk kelompok saham dengan pelemahan terdalam tersebut.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 6,99 persen menjadi Rp 665 per saham. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menyusul dengan penurunan 6,96 persen ke level Rp 3.210.
Tekanan juga dialami saham perbankan dan perusahaan besar lainnya. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merosot 6,86 persen menjadi Rp 4.820, sedangkan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 6,84 persen ke Rp 1.770.
Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melemah 6,83 persen menjadi Rp 1.295. Adapun PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkoreksi 6,82 persen ke level Rp 2.460.
Bursa Asia Bergerak Bervariasi
Pelemahan IHSG terjadi ketika pergerakan bursa Asia menunjukkan arah yang beragam. Indeks Shanghai di China menguat 0,45 persen, sedangkan Straits Times Singapura naik 0,13 persen.
Sebaliknya, indeks Nikkei Jepang melemah 1,21 persen. Sementara itu, bursa Hong Kong tidak mencatatkan perdagangan karena Hang Seng libur.
Perbedaan pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan di pasar saham Indonesia berlangsung di tengah kondisi regional yang tidak sepenuhnya seragam. Investor tetap perlu mencermati perkembangan pasar dan pergerakan saham secara individual di tengah volatilitas perdagangan.









