Saham

IHSG Anjlok 8 Persen ke Level 5.392, Hendra Wardana Waspadai Risiko Koreksi Lanjutan ke 5.200

IHSG anjlok 8 persen ke 5.392 hingga memicu trading halt. Hendra Wardana mengingatkan risiko koreksi dan arus keluar dana asing.

IHSG Anjlok 8 Persen ke Level 5.392, Hendra Wardana Waspadai Risiko Koreksi Lanjutan ke 5.200
Foto: AP/ Tatan Syuflana

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Indeks dibuka merosot sekitar 8 persen hingga menyentuh level 5.392, sehingga perdagangan saham harus dihentikan sementara melalui mekanisme trading halt.

Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai kejatuhan tersebut mencerminkan persoalan yang lebih besar daripada koreksi teknikal biasa. Kekhawatiran investor meningkat setelah MSCI mengusulkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, yang berpotensi memengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar modal nasional.

IHSG Tertekan Sentimen Perubahan Klasifikasi MSCI

Menurut Hendra, penurunan tajam IHSG memperlihatkan meningkatnya persepsi risiko terhadap investasi di Indonesia. Investor berpotensi mengurangi kepemilikan saham ketika kepastian mengenai kebijakan dan reformasi pasar belum terlihat jelas.

Ia menilai tekanan jual tidak hanya berkaitan dengan valuasi saham, tetapi juga menyangkut transparansi, tata kelola, serta keyakinan investor terhadap kondisi pasar.

Dari sisi teknikal, level 5.318 menjadi area support terdekat yang perlu diperhatikan setelah indeks merosot ke 5.392. Apabila tekanan jual berlanjut dan level tersebut ditembus, IHSG berisiko bergerak menuju 5.200.

Namun, level 5.200 merupakan skenario risiko, bukan kepastian arah indeks. Pergerakan selanjutnya bergantung pada respons pasar setelah trading halt berakhir dan kemampuan IHSG mempertahankan area support.

Arus Dana Asing Berpotensi Menambah Tekanan

Hendra juga menyoroti kemungkinan berkurangnya investasi asing apabila Indonesia benar-benar keluar dari kategori Emerging Market dalam indeks MSCI.

Perubahan klasifikasi dapat mendorong dana pasif yang mengikuti indeks menyesuaikan portofolio. Manajer investasi aktif pun berpotensi mengurangi eksposur terhadap saham Indonesia.

Sejumlah perkiraan untuk skenario perubahan klasifikasi berbeda sebelumnya berada pada rentang US$2,2 miliar hingga US$13 miliar. Dengan asumsi kurs Rp17.000–Rp18.000 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp37 triliun hingga Rp234 triliun.

Meski demikian, angka tersebut bukan proyeksi resmi MSCI untuk skenario Standalone Market dan tidak dapat dipastikan sebagai jumlah dana yang akan keluar.

Saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI juga perlu dicermati karena memiliki pengaruh penting terhadap pergerakan indeks. Tekanan pada saham-saham tersebut berpotensi memperdalam pelemahan IHSG.

Investor Diminta Mengutamakan Pengendalian Risiko

Hendra mengingatkan investor agar tidak terburu-buru membeli saham hanya karena harganya turun tajam. Pelaku pasar perlu memperhatikan pergerakan indeks, transaksi saham, arus dana asing, serta stabilitas rupiah sebelum mengambil keputusan.

Di sisi lain, usulan perubahan klasifikasi MSCI belum menjadi keputusan final. Indonesia masih memiliki kesempatan memperkuat transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi investor, pengawasan konsentrasi kepemilikan, dan penegakan aturan pasar modal.

Menurut Hendra, pemulihan kepercayaan membutuhkan langkah nyata, bukan sekadar pengumuman kebijakan. Perbaikan tata kelola dan konsistensi regulasi menjadi faktor penting untuk menjaga daya tarik pasar saham Indonesia.

Dalam kondisi pasar yang bergejolak, menjaga modal dan likuiditas portofolio dinilai lebih penting daripada mengejar saham murah tanpa mempertimbangkan risiko lanjutan.