— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan hari Kamis, 24 September 2026, di zona merah. Indeks tercatat merosot 76,31 poin atau 1,20 persen ke level 6.298,61 akibat tekanan jual yang meluas pada saham-saham berkapitalisasi besar serta bayangan sentimen global.

Perdagangan hari itu sejatinya dimulai pada posisi 6.364,98. Dalam perjalanannya, indeks sempat menyentuh titik tertinggi di level 6.368,57 sebelum akhirnya tertekan hingga titik terendah pada level 6.287,46.

Posisi penutupan di level 6.298,61 tersebut melemah jika dibandingkan dengan pencapaian pada hari sebelumnya yang berada di level 6.374,91. Kendati demikian, aktivitas transaksi terpantau cukup ramai dengan volume menyentuh angka 29,31 miliar saham serta nilai transaksi mencapai Rp11,23 triliun.

Catatan perdagangan menunjukkan ada 188 saham yang mengalami penguatan, 462 saham melemah, dan 144 saham lainnya stagnan tanpa perubahan harga.

Koreksi Meluas ke Seluruh Sektor

Tekanan terhadap IHSG sudah terlihat sejak bel pembukaan berbunyi. Menjelang akhir sesi pertama, posisi indeks berada di level 6.307,10 atau mengalami penurunan sebesar 1,06 persen.

Tekanan jual terus berlanjut memasuki paruh kedua hari perdagangan hingga membuat IHSG kehilangan lebih dari 76 poin saat penutupan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pelemahan tidak hanya berpusat pada saham tertentu saja.

Seluruh 11 indeks sektoral yang ada di Bursa Efek Indonesia kompak parkir di zona negatif. Sektor barang baku memimpin pelemahan dengan koreksi terdalam mencapai 2,17 persen, disusul sektor industrial yang melemah 2,09 persen, serta sektor properti yang terkoreksi 1,66 persen.

Beban dari Saham Berkapitalisasi Besar

Pelemahan sejumlah emiten berkapitalisasi besar turut menjadi faktor utama yang memberatkan langkah indeks.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) masuk dalam jajaran penggerak ke bawah. Selain sektor perbankan, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga ikut membebani pergerakan IHSG.

Besarnya bobot saham-saham tersebut membuat laju indeks menjadi lebih berat untuk melakukan pemulihan, sekalipun masih ada beberapa saham lain yang mampu bertahan di zona hijau.

Aksi Jual Investor Asing

Langkah investor asing yang melepas kepemilikan saham turut menjadi sorotan pelaku pasar sepanjang perdagangan hari Kamis.

Berdasarkan catatan hingga akhir sesi pertama, investor asing membukukan aksi penjualan bersih atau net sell senilai kurang lebih Rp987,09 miliar.

Saham BMRI menjadi salah satu instrumen yang mencatatkan nilai penjualan bersih asing terbesar dengan angka sekitar Rp237,12 miliar. Posisi berikutnya ditempati oleh BBRI dengan net sell sekitar Rp90,69 miliar, serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang mencatat angka jual bersih sekitar Rp76,70 miliar.

Arus modal keluar dari investor asing ini semakin memperberat beban pada kelompok saham berkapitalisasi besar.

Faktor Eksternal dan Bursa Regional

Dari kancah internasional, para pelaku pasar mencermati kenaikan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah di negara-negara maju. Situasi ini berjalan seiring dengan tingginya harga energi serta kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan berlangsung lebih lama.

Selain itu, arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, turut diperhatikan karena sikap mereka dinilai masih cukup ketat dalam mengendalikan inflasi. Lonjakan imbal hasil obligasi global tersebut menjadikan aset berisiko di negara berkembang kurang menarik bagi sebagian kalangan investor.

Sementara itu dari dalam negeri, posisi rupiah yang berada pada kisaran Rp17.900 per dolar AS juga tak luput dari perhatian pasar.

Kondisi di bursa saham Indonesia tersebut sejalan dengan pergerakan bursa regional Asia yang cenderung bervariasi. Indeks Shanghai tercatat turun sekitar 1,22 persen, Hang Seng melemah 0,29 persen, sementara Indeks Nikkei justru menguat sekitar 0,76 persen.

Usai ditutup pada level 6.298,61, para pelaku pasar kini menantikan sejumlah indikator lanjutan seperti pergerakan nilai tukar rupiah, aliran dana asing, tingkat imbal hasil obligasi global, serta performa saham-saham berkapitalisasi besar pada sesi perdagangan selanjutnya.