— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan awal pekan di zona merah. Pada Senin (28/9/2026), IHSG terkoreksi 94,03 poin atau 1,51 persen dan berakhir di level 6.147,85.

Tekanan terhadap pasar saham domestik sudah terlihat sejak sesi pertama perdagangan. IHSG pada penutupan sesi I berada di level 6.181,43 atau melemah 0,97 persen, setelah bergerak di rentang 6.174 hingga 6.227.

Pelemahan tersebut juga menyeret saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) masuk dalam jajaran saham dengan penurunan terdalam.

GOTO Jadi Salah Satu Penekan IHSG

GOTO menjadi salah satu saham yang paling banyak mendapat perhatian pada perdagangan Senin. Saham perusahaan teknologi tersebut turun 14 persen menjadi Rp43 per saham dan masuk daftar top losers LQ45.

Koreksi GOTO berlangsung bersamaan dengan mulai berlakunya kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai batas harga saham minimum.

Sebelumnya, saham yang sudah mencapai Rp50 praktis tidak dapat diperdagangkan di bawah level tersebut. Mulai 28 September 2026, batas harga minimum saham di BEI berubah menjadi Rp1 per saham.

Perubahan aturan tersebut membuat saham-saham yang sebelumnya bertahan di harga Rp50 kembali memiliki ruang untuk bergerak lebih rendah.

Pada sesi pertama, koreksi GOTO tercatat memberikan kontribusi negatif sekitar 12,9 poin terhadap IHSG. Saham GOTO sempat menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) setelah diperdagangkan di level Rp43.

Selain GOTO, saham HRTA, INCO, ANTM, MDKA, INKP, dan ISAT juga sempat masuk daftar saham LQ45 dengan tekanan terbesar pada sesi pertama perdagangan.

GOTO, INCO dan HRTA Masuk Top Losers LQ45

Berdasarkan perdagangan hingga penutupan pasar, GOTO menjadi saham dengan penurunan paling dalam di antara tiga saham tersebut.

Berikut pergerakannya:

SahamHarga PenutupanPerubahan
GOTORp43-14,00%
INCORp4.400-5,98%
HRTARp2.160-5,68%

GOTO tercatat sebagai salah satu konstituen indeks LQ45 dengan rasio free float 70,09 persen. Sementara HRTA memiliki rasio free float 28,40 persen dan INCO sebesar 20,38 persen.

Tekanan terhadap saham-saham tersebut mempertegas kondisi pasar yang cenderung negatif sepanjang perdagangan awal pekan.

Sektor Teknologi Tertekan

Sektor teknologi menjadi salah satu sektor dengan tekanan terbesar sejak sesi pertama. Pada penutupan sesi I, sektor teknologi melemah sekitar 4,10 persen.

Pelemahan sektor tersebut salah satunya dipengaruhi oleh penurunan GOTO. Selain itu, sejumlah saham teknologi dan digital lainnya juga bergerak di zona merah.

Sektor barang konsumen nonprimer atau cyclicals ikut melemah sekitar 2,71 persen, sedangkan sektor infrastruktur terkoreksi sekitar 1,62 persen pada sesi pertama.

Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap IHSG tidak hanya berasal dari satu saham, tetapi tersebar di sejumlah sektor.

Aktivitas Perdagangan Tetap Tinggi

Pada sesi pertama perdagangan, Bursa Efek Indonesia mencatat volume transaksi mencapai sekitar 23,38 miliar saham dengan nilai transaksi Rp6,41 triliun.

Frekuensi perdagangan mencapai sekitar 1,02 juta kali transaksi.

Pada periode tersebut, tekanan jual mendominasi pasar. Sejumlah saham bahkan menyentuh batas Auto Rejection Bawah seiring perubahan aturan harga minimum saham yang berlaku mulai hari ini.

IHSG pada akhirnya gagal keluar dari zona merah hingga penutupan perdagangan dan berakhir di level 6.147,85, turun 1,51 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan awal pekan ini membuat pergerakan IHSG kembali menjadi perhatian pelaku pasar, terutama setelah indeks bergerak di bawah level psikologis 6.200 dan sejumlah saham LQ45 mengalami koreksi cukup dalam.