— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Rabu (14/10/2026) dengan pergerakan positif setelah mengalami koreksi pada sesi sebelumnya. Kenaikan indeks membuka peluang pemulihan jangka pendek, meskipun pelaku pasar masih menghadapi sejumlah risiko dari perkembangan ekonomi global dan evaluasi indeks MSCI.

IHSG tercatat menguat 0,88 persen ke level 5.978,29 saat berita ditulis. Sebelumnya, indeks sempat bergerak melemah pada awal sesi sehingga menunjukkan fluktuasi di kisaran 5.906 hingga 5.985. Pelaku pasar kini menimbang peluang pemantulan teknikal sekaligus mencermati sejumlah indikator yang dapat memengaruhi arah perdagangan berikutnya.

Pola Hammer Buka Peluang Pemulihan IHSG

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta, melihat peluang penguatan IHSG setelah indeks membentuk pola candlestick hammer. Formasi tersebut dapat mengindikasikan mulai berkurangnya tekanan jual dan membuka ruang bagi pemulihan dalam jangka pendek.

Meski demikian, level 5.851 menjadi area support penting yang perlu dipertahankan. Jika tekanan jual kembali meningkat, investor perlu memperhatikan kemampuan indeks bertahan di atas level tersebut.

Pada Selasa (13/10/2026), IHSG ditutup turun 0,18 persen ke posisi 5.925,976. Di tengah pelemahan itu, investor asing justru membukukan pembelian bersih sekitar Rp5,89 miliar di pasar reguler.

Namun, arus dana tersebut belum cukup untuk menunjukkan perubahan tren secara meyakinkan. Sepanjang 2026, investor asing masih mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp111,19 triliun di pasar reguler.

Indikator Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI) juga masih memperlihatkan sinyal negatif. Penurunan volume transaksi menambah alasan bagi investor untuk berhati-hati dalam membaca penguatan indeks.

Data Inflasi Amerika Serikat Jadi Perhatian

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data inflasi Amerika Serikat untuk September yang dijadwalkan rilis pada Rabu (14/10/2026). Konsensus memperkirakan inflasi tahunan naik menjadi sekitar 3,6 persen, dibandingkan 3,4 persen pada Agustus, terutama akibat kenaikan harga energi.

Apabila angka inflasi melampaui perkiraan, peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama dapat menguat. Situasi tersebut berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk saham.

Sebaliknya, inflasi yang lebih terkendali dapat memperbaiki sentimen investor dan mendukung pergerakan pasar saham.

Rupiah dan Evaluasi MSCI Membayangi Pasar

Dari dalam negeri, rupiah menguat 0,07 persen ke level Rp17.900 per dolar AS. Keputusan FTSE Russell mempertahankan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market juga menjadi sentimen pendukung bagi pasar domestik.

Di sisi lain, investor masih menunggu perkembangan evaluasi MSCI, termasuk metodologi High Shareholding Concentration (HSC), transparansi kepemilikan saham, serta rencana peningkatan batas minimum free float.

Rencana Danantara menambah investasi sekitar US$1 miliar hingga akhir 2026 turut menjadi perhatian. Potensi dukungan terhadap pasar tersebut tetap bergantung pada realisasi investasi, kondisi pasar, dan daya tarik valuasi saham.