Topik.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak ke zona hijau pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Penguatan indeks domestik terjadi di tengah sentimen positif yang juga terlihat di sejumlah bursa saham Asia.
Berdasarkan data RTI pada pukul 09.10 WIB, IHSG naik 0,23% atau bertambah 14,321 poin ke level 6.136,021. Aktivitas perdagangan pagi mencatat volume sekitar 4,4 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp1 triliun.
IHSG Menguat Bersama Mayoritas Bursa Asia
Pergerakan positif IHSG pada awal sesi didukung kenaikan di sebagian besar pasar saham kawasan Asia. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang tercatat menguat 0,2%, sedangkan Nikkei Jepang naik 0,9%.
Kondisi serupa terlihat pada pasar saham Korea Selatan. Indeks Kospi mencatat penguatan hingga 1,4% sepanjang September. Sentimen regional tersebut turut memberikan ruang bagi IHSG untuk bergerak positif pada awal perdagangan.
Di dalam negeri, sebanyak 355 saham tercatat mengalami kenaikan harga. Sementara 185 saham bergerak turun dan 189 saham lainnya belum mengalami perubahan.
Sembilan Sektor Menopang Pergerakan IHSG
Penguatan IHSG ditopang oleh sembilan sektor saham. IDX-Industry menjadi sektor dengan kenaikan terbesar setelah menguat 1,96%.
Berikutnya terdapat IDX-NonCyc yang naik 0,83% dan IDX-Energy yang bertambah 0,55%. Kinerja sektor-sektor tersebut memberikan kontribusi terhadap penguatan indeks pada awal perdagangan.
Di jajaran saham LQ45, PT United Tractors Tbk (UNTR) menjadi salah satu penggerak dengan kenaikan 4,87% ke level Rp26.400. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menyusul dengan penguatan 2,75% menjadi Rp2.240.
Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 2,26% ke posisi Rp181 per saham.
GOTO hingga MDKA Berada di Zona Merah
Tidak seluruh saham bergerak positif. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) justru mengalami koreksi cukup dalam pada awal perdagangan.
Saham GOTO turun 13,51% menjadi Rp32. Penurunan juga terjadi pada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar 1,71% ke Rp727.
PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) turut terkoreksi 1,29% menjadi Rp1.530 per saham.
Perbedaan pergerakan antar-emiten menunjukkan investor masih melakukan seleksi terhadap saham di tengah beragam sentimen yang memengaruhi pasar domestik maupun global.
Rupiah dan Harga Minyak Jadi Perhatian Investor
BRI Danareksa Sekuritas melalui Sajian Pagi Menu Trading (SAPA MENTARI) mencatat stabilitas rupiah dan pergerakan harga minyak mentah menjadi perhatian pelaku pasar.
Harga minyak Brent turun hingga berada di sekitar US$104 per barel. Pelemahan tersebut dipengaruhi rencana Amerika Serikat melepas cadangan minyak strategis serta pemulihan jalur ekspor minyak Arab Saudi.
Di sisi lain, penguatan dolar AS masih menjadi sentimen yang perlu diperhatikan. Investor juga mencermati arah kebijakan The Federal Reserve yang dinilai masih cenderung hawkish.
Pasar domestik selanjutnya menunggu publikasi data perdagangan Agustus serta angka inflasi September. Kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian pelaku pasar.
Yield US Treasury Masih Dekati Level Tertinggi
Tekanan di pasar obligasi global sepanjang September turut menjadi perhatian. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah, inflasi dan penerbitan surat utang baru mendorong kenaikan imbal hasil obligasi.
Yield US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,2383% di pasar Asia. Level tersebut mendekati posisi tertinggi sejak 2007 dan mencerminkan kenaikan bulanan hampir 50 basis poin.
Kenaikan yield berpotensi meningkatkan biaya refinancing bagi korporasi. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor karena biaya pendanaan yang lebih mahal berpotensi memengaruhi ekspansi bisnis.
Meski demikian, dampaknya terhadap pasar saham sejauh perdagangan pagi masih relatif terbatas. Kinerja keuangan perusahaan dan prospek pertumbuhan ekonomi tetap menjadi faktor yang menopang minat terhadap aset saham.
Penguatan pasar saham global juga masih mendapatkan dukungan dari sektor teknologi dan investasi terkait kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, dolar AS berada dalam tren kenaikan bulanan sekitar 2%.
Di pasar valuta asing, euro berada di sekitar US$1,1336 di tengah tekanan dari isu energi dan risiko politik Eropa. Pound sterling turun tipis 0,03% ke US$1,3227, sedangkan yen Jepang relatif stabil pada 157,03 per dolar AS.
Pergerakan IHSG selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan rupiah, harga minyak, data ekonomi domestik serta arah pasar global. Investor juga akan mencermati perkembangan yield obligasi Amerika Serikat dan kebijakan bank sentral untuk menentukan arah perdagangan berikutnya.
