Saham

IHSG Terkena Koreksi Tajam, Mirae Asset Ingatkan Investor Ritel Waspada

Mirae Asset Sekuritas mengimbau investor ritel tidak terburu-buru masuk pasar secara agresif setelah IHSG mengalami koreksi tajam akibat usulan MSCI.

IHSG Terkena Koreksi Tajam, Mirae Asset Ingatkan Investor Ritel Waspada
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto (Sumber: Mirae Asset)

Mirae Asset Sekuritas Indonesia memberikan peringatan kepada para pelaku pasar, termasuk investor ritel, supaya tidak tergesa-gesa melakukan pembelian saham secara agresif menyusul koreksi tajam yang melanda indeks harga saham gabungan (IHSG). Sekalipun penurunan harga menciptakan celah investasi, langkah pembelian secara selektif dan bertahap dipandang jauh lebih bijak di tengah situasi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul langkah MSCI yang mengusulkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Proses konsultasi yang resmi dimulai pada 15 Oktober 2026 ini membawa potensi dampak terhadap pergerakan arus modal asing serta tingkat likuiditas di pasar domestik.

Rully Arya Wisnubroto selaku Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyatakan bahwa para pelaku pasar sebaiknya mempertahankan fleksibilitas cadangan kas demi mengantisipasi potensi gejolak susulan.

“Kami tidak melihat perlunya investor terburu-buru kembali masuk ke pasar secara agresif. Namun, koreksi yang sangat tajam juga dapat membuka peluang secara selektif,” ujar Rully dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).

Bagi pemilik posisi kas yang mencukupi, Rully menyarankan opsi pembelian secara bertahap atau gradual re-entry, khususnya pada emiten yang memiliki tingkat kepemilikan oleh investor institusi asing dalam kategori rendah.

Pihak Mirae lebih menjatuhkan pilihan pada saham-saham yang tidak terlalu terikat dengan pergerakan dana asing, sehingga tekanan jual yang berkaitan dengan kebijakan MSCI dapat lebih teredam. Sejumlah saham dari sektor komoditas dinilai layak dicermati dengan tetap memperhatikan aspek likuiditas serta karakteristik masing-masing emiten.

“Dalam kondisi seperti ini, kami lebih memilih saham yang relatif tidak bergantung pada aliran dana asing, sambil tetap mempertahankan fleksibilitas kas untuk menghadapi kemungkinan volatilitas lanjutan,” tutur Rully.

Usulan reklasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI ini dilatarbelakangi oleh sejumlah sorotan, mulai dari aspek transparansi struktur kepemilikan saham, mutu saham beredar bebas atau free float, hingga indikasi aktivitas perdagangan yang terkoordinasi.

Keputusan final terkait wacana tersebut dijadwalkan keluar selambat-lambatnya pada akhir Juni 2027. Jika benar-benar diberlakukan, perubahan status tersebut berisiko mendepak saham-saham Indonesia dari indeks emerging market yang selama ini menjadi patokan bagi berbagai instrumen investasi global.

“Risikonya bukan hanya berapa besar dana asing yang berpotensi keluar. Dalam jangka lebih panjang, perubahan klasifikasi ini dapat mempersempit basis investor institusi, mengurangi likuiditas pasar, dan meningkatkan premi risiko,” jelas Rully.

Kendati demikian, pihak Mirae menegaskan bahwa pergeseran status tersebut belum menjadi ketetapan final. Langkah dan respons dari otoritas regulator dalam membenahi transparansi pasar akan menjadi penentu utama bagi terjaganya kepercayaan investor.

Tekanan Turut Hantam SBN

Gelombang tekanan di pasar keuangan ini rupanya juga merembet ke instrumen surat berharga negara (SBN). Jessica Tasijawa selaku Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia memaparkan bahwa tingkat imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun sempat menyentuh angka 7,33 persen saat pembukaan pasar, sementara nilai tukar rupiah terpantau berada di posisi melebihi Rp 18.000 per dolar AS.

Menghadapi situasi tersebut, Mirae menilai tingkat imbal hasil SBN masih menyajikan daya tarik tersendiri untuk diakumulasi secara bertahap, terutama pada instrumen berjangka pendek. Langkah ini sejalan dengan selisih yield antara obligasi pemerintah Indonesia dan US Treasury yang melebar hingga melampaui 200 basis poin.

Kendati demikian, para investor tetap diingatkan agar mewaspadai berbagai risiko lanjutan, seperti potensi pelemahan lanjutan pada rupiah, dinamika arus modal asing, serta tingkat sensitivitas obligasi berdurasi panjang terhadap tren kenaikan imbal hasil.