Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, meminta regulator keuangan di berbagai negara memperkuat pengawasan terhadap ancaman yang berpotensi mengguncang stabilitas sistem keuangan global. Risiko tersebut mencakup pertumbuhan lembaga keuangan non-bank, serangan siber, hingga meningkatnya praktik penipuan yang memanfaatkan perkembangan teknologi.
Peringatan itu disampaikan Georgieva dalam konferensi pers penutupan Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand, Sabtu (17/10/2026). Ia menggambarkan pembahasan selama pertemuan berlangsung dalam suasana yang mencerminkan dua kondisi sekaligus, yakni harapan terhadap ketahanan ekonomi dunia dan kekhawatiran atas sejumlah kerentanan yang mulai terlihat.
IMF Soroti Ancaman dari Lembaga Keuangan Non-Bank
Georgieva mengatakan, pertemuan tahunan tersebut memperlihatkan adanya optimisme sekaligus kecemasan di kalangan pembuat kebijakan. Menurutnya, perubahan kondisi ekonomi global mengharuskan otoritas keuangan tidak mengabaikan potensi gangguan yang muncul dari berbagai sektor.
“Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia pekan ini di Bangkok diwarnai oleh rasa optimisme sekaligus kekhawatiran,” kata Georgieva dalam keterangan yang dikutip Reuters.
Salah satu perhatian utama IMF adalah meningkatnya peran lembaga keuangan non-bank atau non-bank financial intermediaries (NBFI). Kelompok ini mencakup perusahaan pemberi pinjaman private credit, dana pensiun, serta manajer investasi yang menjalankan aktivitas pembiayaan dan pengelolaan aset di luar sistem perbankan tradisional.
Perkembangan sektor tersebut dapat memperluas akses pendanaan. Namun, tingkat transparansi yang terbatas dan perbedaan mekanisme pengawasan juga berpotensi menyulitkan regulator dalam mendeteksi risiko. Tekanan likuiditas atau meningkatnya gagal bayar pada sektor tersebut dapat merambat ke bagian lain dari sistem keuangan.
Serangan Siber dan AI Menambah Tantangan Pengawasan
Selain risiko lembaga keuangan non-bank, IMF menaruh perhatian pada ancaman keamanan digital. Pemanfaatan teknologi finansial dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin luas membuka peluang efisiensi, tetapi juga menghadirkan celah yang dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan.
Serangan siber terhadap infrastruktur keuangan dan penipuan digital dapat mengganggu layanan pembayaran sekaligus mengikis kepercayaan masyarakat. Karena itu, pengawasan tidak cukup hanya berfokus pada kondisi keuangan institusi, tetapi juga perlu mencakup keamanan sistem dan perlindungan data.
Koordinasi antarotoritas dinilai penting agar perkembangan teknologi tidak melampaui kemampuan pengawasan yang tersedia.
Inflasi dan Cadangan Fiskal Masih Menjadi Perhatian
Georgieva juga mengingatkan bank sentral agar tetap berfokus menjaga stabilitas harga. Pengendalian inflasi menjadi semakin penting ketika ketahanan ekonomi menghadapi tekanan, termasuk akibat berkurangnya cadangan energi dan terbatasnya ruang fiskal sejumlah negara.
Beban utang yang tinggi serta biaya energi yang meningkat dapat mempersempit kemampuan pemerintah dalam merespons guncangan ekonomi. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi negara berkembang.
IMF dan Bank Dunia pun mendorong kerja sama lintas negara untuk memperkuat pengawasan arus modal non-bank, meningkatkan pertahanan siber, dan menjaga ketahanan ekonomi. Upaya tersebut diharapkan membantu mencegah risiko sektoral berkembang menjadi gangguan yang lebih luas terhadap sistem keuangan global.









