Dalam dunia investasi saham, rights issue menjadi salah satu hal penting yang perlu dipahami oleh investor karena dapat memengaruhi jumlah kepemilikan saham dan peluang keuntungan investor.
Aksi korporasi ini berupa penawaran umum terbatas di mana perusahaan menerbitkan saham baru dan terlebih dahulu menawarkannya kepada pemegang saham yang sudah tercatat sebelum dilepas ke publik luas.
Di Indonesia, rights issue secara resmi dikenal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Pelaksanaannya diatur secara ketat oleh regulasi, seperti Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), serta POJK Nomor 14/POJK.04/2019.
Ketika penyelenggaraan berlangsung, setiap pemegang saham lama mempunyai hak untuk membeli saham baru berdasarkan rasio tertentu. Sebagai contoh, rasio 3:1 berarti setiap satu lembar saham lama memberikan hak untuk membeli tiga lembar saham baru.
Mekanisme tersebut berbeda dengan Initial Public Offering (IPO). Pada IPO, perusahaan pertama kali menawarkan saham kepada publik melalui Bursa Efek, sedangkan rights issue merupakan penawaran tambahan khusus bagi pemegang saham existing agar emiten bisa menghimpun dana segar tanpa harus berutang.
Sisi Positif Rights Issue bagi Investor
Bagi pelaku pasar, pelaksanaan rights issue dapat dimanfaatkan sebagai peluang apabila dianalisis dengan cermat. Sejumlah dampak positif dari aksi korporasi ini meliputi:
- Investor berkesempatan membeli saham dengan harga jauh lebih rendah dari harga pasar, hal ini berpotensi meningkatkan keuntungan ketika harga saham naik.
- Menjaga persentase kepemilikan saham dengan menggunakan HMETD agar tidak terdilusi.
- Mendorong kenaikan nilai perusahaan, terutama jika dana hasil rights issue dimanfaatkan untuk ekspansi yang dapat meningkatkan kinerja bisnis.
Sisi Negatif Rights Issue bagi Investor
Kendati demikian, tidak semua pelaksanaan penawaran umum terbatas memberikan hasil yang menguntungkan. Investor perlu mencermati sejumlah risiko berikut:
- Harga saham berpotensi menurun karena jumlah saham yang beredar menjadi lebih banyak sehingga terjadi penyesuaian harga.
- Dilusi kepemilikan, apabila investor tidak menggunakan atau menjual HMETD yang dimilikinya.
- Ketidakpastian penggunaan dana, karena jika perusahaan tidak berhasil mengelola dana hasil rights issue dengan efektif, itu dapat berpengaruh ke kinerja bisnis dan harga saham.
Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan, pastikan investor telah membaca prospek rights issue agar memahami tujuan penggunaan dana tersebut dan mampu melihat potensi keuntungan agar tidak merugi.
Selain itu, hindari mengambil keputusan hanya karena mengikuti tren atau rekomendasi pihak lain karena setiap investor mempunyai tujuan, profil risiko, dan kemampuan finansial yang berbeda.









