Topik.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali tertekan pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Setelah sempat bergerak menguat di awal sesi, indeks justru berbalik arah dan berakhir dengan penurunan tajam hingga 107,69 poin atau 1,69% ke level 6.277.
Tekanan di pasar saham juga tercermin dari aktivitas investor asing. Pemodal asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp131,72 miliar. Sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk emiten perbankan, menjadi sasaran aksi jual asing ketika IHSG mengalami pelemahan sepanjang perdagangan.
Lima Saham Jadi Sasaran Net Sell Asing
Berdasarkan data perdagangan, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI mencatat nilai net sell asing terbesar, yakni Rp339,42 miliar. Posisi berikutnya ditempati TINS dengan net sell Rp104,75 miliar.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mengalami tekanan dari investor asing dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp101,44 miliar. Selanjutnya, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI mencatat net sell Rp85,24 miliar.
Sementara itu, TLKM turut masuk dalam daftar saham yang paling banyak dilepas investor asing dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp54,41 miliar.
Di sisi lain, beberapa saham masih mencatatkan akumulasi pembelian asing. TAPG menjadi saham dengan net buy terbesar sebesar Rp36,89 miliar, disusul AADI Rp30,33 miliar, DEWA Rp27,60 miliar, dan MDKA Rp25,24 miliar.
Hampir Seluruh Sektor Berada di Zona Merah
Penurunan IHSG pada perdagangan Selasa berlangsung seiring dengan pelemahan mayoritas sektor saham. Sektor energi menjadi salah satu yang mengalami tekanan paling besar dengan penurunan 2,76%.
Sektor industri menyusul dengan pelemahan 2,31%, kemudian properti turun 2,01% dan sektor barang baku terkoreksi 1,96%. Sektor teknologi juga melemah 1,59%, sedangkan transportasi dan logistik turun 1,35%.
Tekanan turut terlihat pada sektor konsumer non-primer yang melemah 1,49%, sektor keuangan turun 0,85%, kesehatan 0,74%, serta infrastruktur 0,66%.
Hanya sektor konsumer primer yang bergerak positif dengan kenaikan 0,33%. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan perdagangan berlangsung cukup luas, meskipun tidak seluruh sektor mengalami penurunan.
Saham Big Cap Ikut Menekan IHSG
Selain pelemahan sektoral, pergerakan sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi perhatian. BYAN tercatat mengalami penurunan 9,71% dan menjadi salah satu saham yang memberikan tekanan terhadap pasar.
Penurunan juga terjadi pada sejumlah saham yang berada dalam kelompok emiten Prajogo Pangestu, termasuk BREN, TPIA, BRPT, CDIA, dan PTRO. Beberapa saham sektor komoditas seperti AALI, AADI, ITMG, INDY, hingga DSNG juga ikut terkoreksi.
Tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar menjadi salah satu faktor yang memperberat pergerakan IHSG sepanjang perdagangan.
Sejumlah Saham Berhasil Naik Tajam
Di tengah tekanan pasar secara keseluruhan, sejumlah saham justru mencatatkan kenaikan signifikan. FORU menjadi salah satu saham dengan penguatan terbesar, naik 34,35% ke Rp176 dan mencapai auto reject atas (ARA).
BPTR turut menguat 33,78% menjadi Rp99, sedangkan SAPX naik 24,50% ke Rp376. Beberapa saham lainnya juga mencatat kenaikan dua digit, seperti AGAR yang naik 22,17% menjadi Rp2.810, DFAM menguat 19,57% ke Rp110, serta STAR naik 15,79% menjadi Rp440.
Tekanan Asing Berlanjut dari Perdagangan Sebelumnya
Tekanan pasar pada Selasa juga melanjutkan kondisi perdagangan sehari sebelumnya. Pada Senin, IHSG telah turun 56,43 poin atau 0,88% ke level 6.384.
Investor asing ketika itu mencatatkan net sell jauh lebih besar, yakni Rp510,07 miliar. BMRI menjadi saham dengan net sell asing terbesar sebesar Rp140,61 miliar, diikuti ANTM Rp139,93 miliar dan BBCA Rp131,34 miliar.
Meski pasar mengalami tekanan dalam dua perdagangan tersebut, sejumlah saham tetap mampu mencatatkan kenaikan tinggi. CSMI naik 34,48% menjadi Rp234, TRUE menguat 34,38% ke Rp90, sementara AGAR melonjak 25% menjadi Rp2.300.
NASI, HOPE, BAJA, dan INTD juga mencatat penguatan hingga mendekati atau mencapai batas kenaikan harian. Sementara BBSS naik 29,11% menjadi Rp102 dan JAWA menguat 25,64% ke Rp196.
