Topik.id — Peresmian pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, pada 3 September 2026 tidak hanya memvalidasi kemampuan Subang Smartpolitan menarik investasi manufaktur skala besar, tetapi juga membuka jalan bagi terbentuknya ekosistem industri baru. Fenomena ini secara signifikan memperkuat prospek saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), yang merupakan bagian dari Grup Djarum dan Prajogo Pangestu.
Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa investasi BYD senilai sekitar Rp 11 triliun menempatkan perusahaan otomotif tersebut sebagai salah satu penghuni utama di kawasan industri terpadu itu. Kehadirannya diprediksi akan memicu tumbuhnya berbagai industri pendukung, mulai dari pemasok komponen, produsen baterai, sektor logistik, hingga industri kemasan.
“Jadi, katalis bagi SSIA bukan hanya berasal dari penjualan lahan kepada BYD, tetapi juga dari potensi terbentuknya ekosistem industri baru di Subang,” ujar Hendra di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Keyakinan terhadap potensi Subang Smartpolitan semakin diperkuat dengan masuknya sejumlah investor besar lain seperti Prajogo Pangestu, Djarum, dan Henan Putihrai. Dalam bisnis pengembangan kawasan industri, kehadiran pemain besar secara inheren meningkatkan kepercayaan calon investor terhadap kualitas infrastruktur, utilitas, aksesibilitas logistik, serta prospek keseluruhan kawasan.
Lokasi Subang yang strategis di koridor industri Jawa Barat, didukung oleh jaringan tol yang memadai dan pengembangan Pelabuhan Patimban, turut menambah daya tarik kawasan tersebut sebagai pusat industri masa depan.
Hendra melihat PT Surya Semesta Internusa (SSIA) tengah memasuki fase transformasi bisnis yang signifikan. Subang Smartpolitan diposisikan sebagai mesin pertumbuhan baru, yang akan melengkapi bisnis properti yang telah ada sebelumnya. Peningkatan penjualan lahan industri diprediksi akan memberikan dampak positif substansial terhadap pendapatan dan laba perseroan.
Realisasi pertumbuhan ini sangat bergantung pada kemampuan SSIA dalam mengonversi minat investor menjadi transaksi penjualan lahan yang kemudian dapat dibukukan sebagai pendapatan dan laba. Hingga akhir tahun, pertumbuhan perusahaan dinilai masih dapat ditopang oleh penjualan lahan industri, penambahan penghuni baru, pengembangan kawasan, serta pemulihan bisnis properti dan perhotelan.
Investor perlu mencermati bahwa penjualan lahan tidak selalu langsung tercermin sebagai pendapatan akuntansi, karena melibatkan proses pembangunan, serah terima, dan pengakuan secara akuntansi yang bertahap.
“Indikator seperti realisasi marketing sales, luas lahan yang terjual, harga jual rata-rata, serta kemampuan mengubah backlog menjadi pendapatan dan laba lebih penting daripada sekadar nilai investasi BYD,” ungkap pendiri Republik Investor tersebut.
Dibandingkan dengan emiten kawasan industri lain seperti DMAS, KIJA, dan BEST, SSIA dinilai memiliki karakter yang lebih berorientasi pada pertumbuhan. Potensi kenaikan valuasi SSIA bisa lebih besar jika Subang berhasil berkembang menjadi pusat industri baru, meskipun risiko yang menyertainya juga lebih tinggi.
Rekomendasi Saham SSIA dan Target Harga
Hendra menilai BYD dapat menjadi pemicu awal yang menarik investasi lain ke Subang Smartpolitan. Apabila setelah peresmian pabrik BYD diikuti oleh penambahan penghuni besar dan peningkatan penjualan lahan secara berkelanjutan, pasar berpotensi memberikan valuasi yang lebih tinggi terhadap saham SSIA.
Dengan demikian, peresmian pabrik BYD dianggap sebagai katalis jangka pendek. Sementara itu, pertumbuhan penghuni kawasan dan monetisasi lahan di Subang Smartpolitan menjadi fundamental yang lebih krusial untuk jangka menengah hingga panjang.
“Untuk sahamnya, saya masih melihat SSIA cukup menarik dan secara teknikal masuk kategori speculative buy. Target harga saham SSIA di Rp 2.320,” ujar Hendra.
Meskipun demikian, investor disarankan untuk tidak hanya mengandalkan sentimen dari peresmian pabrik BYD, karena sebagian ekspektasi tersebut mungkin sudah tercermin dalam harga saham saat ini. Hal yang perlu dicermati selanjutnya adalah realisasi investasi baru, peningkatan marketing sales, dan pertumbuhan laba perusahaan.
Selama fundamental Subang Smartpolitan terus berkembang dan momentum teknikal tetap positif, Hendra menilai SSIA masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan menuju target harga Rp 2.320.
Ikuti Topik.id
