— Pemerintah Kabupaten Magetan mendorong peningkatan pemahaman serta kesiapsiagaan warga dalam menghadapi ancaman gempa bumi melalui Sekolah Lapang BMKG. Wawasan mengenai langkah pencegahan sebelum, saat kejadian, dan sesudah bencana dinilai mendesak guna menekan risiko jatuhnya korban jiwa maupun kerugian material.

Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro menegaskan bahwa pembentukan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana memerlukan partisipasi aktif dari warga, tidak bisa sekadar dibebankan kepada pihak pemerintah semata.

“Tujuannya adalah menyiapkan masyarakat kita agar tangguh menghadapi bencana. Masyarakat harus mengerti bagaimana caranya menyiapkan diri menghadapi gempa,” kata Suyatni dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi Kabupaten Magetan dengan tema Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempa Bumi dan Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045, Sabtu (27/9/2026) di Magetan.

Penyelenggaraan Sekolah Lapang BMKG ini diharapkan mampu membekali masyarakat dengan informasi yang akurat dan spesifik terkait mitigasi bencana, sehingga warga tidak sekadar waspada, tetapi juga cekatan mengambil tindakan yang tepat ketika situasi darurat terjadi.

Suyatni mengemukakan, program tersebut memberikan dukungan bagi pemerintah daerah dalam memaksimalkan kapasitas warga agar mampu mengidentifikasi berbagai potensi kebencanaan di wilayahnya serta menentukan respons secara cepat dan akurat.

“Bagaimana mengenali potensi-potensi kebencanaan sehingga masyarakat tahu cara bertindak yang cepat dan tepat dalam situasi darurat,” ujarnya.

Selama ini, karakteristik geografis Magetan yang dikelilingi pegunungan membuat wilayah tersebut lebih lekat dengan kejadian bencana tanah longsor dan angin kencang. Meskipun guncangan gempa yang dirasakan warga biasanya bersumber dari daerah sekitar dan bermagnitudo kecil, potensi bahayanya tetap harus diwaspadai.

Peringatan itu didasarkan pada data dari BMKG yang menunjukkan adanya sumber gempa darat dengan posisi yang relatif dekat dengan Magetan.

“Ternyata Magetan pun punya potensi bencana gempa bumi yang tidak sederhana. Cukup membahayakan karena letaknya dekat, di darat. Skalanya mungkin kecil, tetapi karena kedalamannya dangkal, kemampuan daya rusaknya bisa hebat,” katanya.

Kondisi tersebut memperkuat urgensi mitigasi yang dijalankan secara bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat, di mana pemerintah berpedoman pada protokol lembaga berwenang sementara warga memahami prosedur penyelamatan diri.

“Yang penting juga masyarakat harus tahu. Kepada peserta yang terpilih sebagai peserta, tolong ini dimanfaatkan betul, dimaknai betul. Jangan sekadar ikut ramai-ramai,” tegasnya.

Di samping itu, Suyatni menuturkan bahwa getaran gempa yang kerap dirasakan masyarakat Magetan sebelumnya sering kali terhubung dengan aktivitas seismik dari wilayah tetangga, seperti Pacitan. Kendati demikian, langkah antisipasi tetap perlu ditingkatkan mengingat sifat bencana yang sulit diprediksi.

Lewat pelaksanaan sekolah lapang ini, para peserta yang mencakup unsur relawan serta pemangku kepentingan diharapkan mampu meneruskan wawasan mitigasi yang diperoleh kepada lingkup masyarakat yang lebih luas.

“Kami berharap, terutama SDM di Magetan, para relawan kebencanaan dan sejumlah stakeholder yang hadir makin memahami, sehingga makin menguatkan peran dan tugasnya ketika dibutuhkan,” jelasnya.

Suyatni turut menyoroti kebiasaan sebagian warga yang masih mengandalkan penanganan bencana secara tradisional dari leluhur, yang menurutnya perlu diselaraskan dengan standar mitigasi modern.

Sebagai penutup, ia berharap ilmu yang didapat para peserta dapat berfungsi sebagai upaya pencegahan demi keselamatan bersama.

“Kita semua berdoa supaya ilmu itu nanti tidak dipakai, karena kalau dipakai artinya terjadi bencana. Kita berdoa mudah-mudahan tidak ada bencana. Tetapi apa pun, kita harus sedia payung sebelum hujan,” pungkasnya.