TOPIK.ID — Ada kisah yang membutuhkan panggung besar untuk menutup perjalanan panjangnya. Kisah Lionel Messi bersama Timnas Argentina adalah salah satunya.
Malam ini, di Stadion Monumental, Buenos Aires, Messi akan kembali mengenakan seragam biru-putih untuk satu kesempatan terakhir di hadapan publik Argentina. Sebuah perpisahan yang terasa tepat karena ada perjalanan yang memang seharusnya berakhir di rumah sendiri.
Konsep “El último tango tenía que ser en Argentina. Porque hay bailes que solo se pueden terminar en casa” atau “Tango terakhir harus berlangsung di Argentina, karena ada tarian yang hanya bisa diakhiri di rumah” menjadi gambaran paling tepat untuk menutup perjalanan Messi bersama La Albiceleste.
Kalimat tersebut merangkum hubungan panjang yang dibangun Messi dan Timnas Argentina selama lebih dari dua dekade. Sebuah perjalanan yang melewati berbagai generasi, turnamen, stadion, kemenangan, kegagalan, hingga momen-momen yang kini menjadi bagian dari sejarah sepak bola Argentina.
Perjalanan Messi Dimulai dari Tim Muda Argentina
Kisah Messi bersama Argentina dimulai jauh sebelum dirinya menjadi kapten dan simbol utama tim nasional.
Salah satu tonggak awal dalam perjalanan internasionalnya hadir ketika ia membawa Argentina menjuarai Piala Dunia U-20 pada 2005. Gelar tersebut menjadi salah satu keberhasilan besar pertama Messi dengan seragam negaranya.
Dari sana, perjalanan sang nomor 10 terus berkembang. Messi perlahan bertransformasi dari pemain muda berbakat menjadi figur utama Timnas Argentina.
Ia melewati banyak fase, mulai dari tekanan besar, kegagalan di sejumlah final, hingga akhirnya mencapai masa paling sukses dalam karier internasionalnya.
Empat Gelar Besar Bersama Timnas Senior
Puncak perjalanan Messi bersama Argentina hadir antara 2021 hingga 2024.
Dalam rentang waktu tersebut, Argentina meraih empat trofi bersama Messi, yakni Copa America 2021, Finalissima 2022, Piala Dunia 2022, dan Copa America 2024.
Setiap gelar memiliki makna berbeda dalam perjalanan Messi.
Copa America 2021 menjadi trofi mayor pertama Messi bersama Timnas Argentina di level senior. Setahun kemudian, Argentina memenangi Finalissima 2022.
Namun, momen terbesar tentu datang ketika Messi mengangkat trofi Piala Dunia 2022 di Qatar.
Keberhasilan tersebut menjadi puncak dari perjalanan panjangnya bersama La Albiceleste sekaligus menempatkan Messi sebagai kapten generasi Argentina yang kembali membawa negara tersebut ke puncak sepak bola dunia.
Perjalanan sukses itu kemudian berlanjut dengan gelar Copa America 2024.
Lebih dari Sekadar Statistik
Kisah Messi bersama Argentina tidak hanya dapat diukur melalui jumlah pertandingan, gol, assist, maupun trofi.
Ada air mata, kegagalan, tekanan, selebrasi, dan berbagai momen emosional yang ikut membentuk perjalanan panjang tersebut.
Dari seorang pemain muda yang pertama kali mengenakan seragam Argentina hingga menjadi kapten yang mengangkat trofi terbesar dalam sepak bola, Messi telah membangun kisah yang melampaui pencapaian individu.
Perjalanannya telah menjadi bagian dari memori kolektif sepak bola Argentina.
Bagi banyak pendukung La Albiceleste, Messi bukan sekadar pemain. Ia menjadi simbol dari sebuah generasi yang pernah mengalami kegagalan sebelum akhirnya mencapai puncak kejayaan.
Tango Terakhir di Monumental
Seluruh perjalanan tersebut kini menuju bagian terakhir.
Argentina akan menghadapi Benin dalam pertandingan penutup FIFA Matchday di Stadion Monumental.
Namun, laga tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar hasil pertandingan.
Malam itu akan menjadi kesempatan bagi publik Argentina untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Messi dengan seragam tim nasional.
Setelah lebih dari 20 tahun bersama La Albiceleste, sang kapten akhirnya akan menjalani tarian terakhirnya.
Bukan di tempat asing, bukan jauh dari pendukungnya, melainkan di Argentina.
Di hadapan publik yang mengikuti perjalanan panjangnya dari masa sulit hingga puncak kejayaan.
Karena seperti konsep yang mengiringi perpisahan tersebut, ada tarian yang memang hanya bisa diselesaikan di rumah sendiri.
Argentina melawan Benin mungkin tercatat sebagai pertandingan persahabatan internasional.
Namun, bagi Lionel Messi dan publik Argentina, malam di Monumental akan menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Itulah tango terakhir Lionel Messi bersama La Albiceleste—penutup sebuah perjalanan yang mungkin berakhir di lapangan, tetapi akan tetap hidup dalam sejarah sepak bola Argentina.
