— Emas masih dipandang memiliki daya tarik sebagai aset pelindung nilai atau safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pergerakan inflasi, pelemahan dolar AS, serta kekhawatiran terhadap stabilitas keuangan negara menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi minat investor terhadap logam mulia.

Direktur Riset dan Strategi Investasi Sprott, Kenny Zhu, menilai prospek emas dalam jangka panjang tetap didukung oleh pembelian bank sentral dan masuknya dana ke produk investasi berbasis emas. Kendati imbal hasil obligasi yang tinggi dapat membatasi kenaikan harga, perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat berpotensi membuka ruang bagi penguatan emas.

Arus Dana ETF dan Inflasi Menopang Daya Tarik Emas

Zhu melihat aliran dana masuk ke exchange-traded fund (ETF) berbasis emas sebagai salah satu sinyal bahwa investor masih mempertimbangkan logam mulia dalam portofolio mereka. Di tengah tekanan inflasi, arus dana tersebut tetap menjadi perhatian pelaku pasar.

Menurutnya, pergerakan emas yang mampu bertahan di tengah kondisi pasar yang belum memiliki arah jelas dapat membuka peluang kenaikan. Sebagian investor diperkirakan mulai memanfaatkan situasi tersebut untuk membangun posisi atau menambah porsi investasi pada emas.

Kondisi ekonomi juga berpengaruh terhadap prospek logam mulia. Skenario soft landing, ketika ekonomi melambat tanpa mengalami kontraksi tajam, maupun perlambatan yang lebih dalam dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral.

Jika Federal Reserve atau The Fed secara mendadak mengubah arah kebijakan moneternya, respons pasar dapat memicu pergerakan harga emas yang signifikan. Namun, arah dan besarnya perubahan tetap bergantung pada kondisi ekonomi serta keputusan kebijakan yang diambil.

Pembelian Bank Sentral Jadi Penopang Struktural

Selain arus dana investor, pembelian emas oleh bank sentral dinilai menjadi faktor penting yang menopang permintaan jangka panjang. Zhu menjelaskan bahwa tren akumulasi emas oleh otoritas moneter sebenarnya telah berlangsung sebelum 2022, tetapi perang Rusia-Ukraina mempercepat perkembangannya.

Sanksi Amerika Serikat terhadap Rusia, termasuk pembatasan akses terhadap sistem keuangan internasional, menjadi salah satu peristiwa yang mendorong perhatian negara-negara terhadap pengelolaan cadangan devisa. Dalam konteks tersebut, emas dapat dipertimbangkan sebagai aset cadangan yang tidak bergantung langsung pada kewajiban penerbit mata uang tertentu.

Perubahan strategi pengelolaan cadangan oleh bank sentral berpotensi memberikan dukungan permintaan yang lebih berkelanjutan dibandingkan transaksi jangka pendek investor.

Imbal Hasil Obligasi Masih Menjadi Tantangan

Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi menjadi hambatan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan bunga atau pendapatan berkala. Ketika instrumen berbunga menawarkan imbal hasil tinggi, sebagian investor dapat memilih mengalihkan dana dari emas.

Namun, Zhu menilai konteks kenaikan imbal hasil juga perlu diperhatikan. Apabila peningkatan tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap risiko gagal bayar pemerintah atau penurunan nilai mata uang, emas justru dapat terlihat lebih menarik sebagai aset perlindungan.

Dengan demikian, prospek emas tidak hanya ditentukan oleh tingkat suku bunga, tetapi juga oleh kepercayaan terhadap mata uang, kebijakan pemerintah, dan kondisi ekonomi global. Investor tetap perlu mempertimbangkan volatilitas harga serta risiko pasar sebelum mengambil keputusan investasi.