Deretan isu ekonomi dan pasar modal mencuri perhatian pembaca sepanjang pekan ini. Mulai dari langkah konsorsium pengusaha lokal hingga dinamika saham emiten tambang menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku pasar.
Rencana Aksi Borong Saham Jusuf Hamka Cs
Pengusaha jalan tol, Mohammad Jusuf Hamka atau Babah Alun mengungkapkan rencananya bersama sejumlah pengusaha untuk memborong saham hingga senilai Rp 5 triliun pada perdagangan Senin (19/10/2026).
Langkah tersebut disiapkan untuk memanfaatkan kejatuhan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), sekaligus menunjukkan dukungan pengusaha domestik terhadap pasar modal nasional yang dihantam efek MSCI.
Jusuf Hamka, yang dikenal sebagai pemegang saham utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), mengaku telah membentuk konsorsium bersama sejumlah rekannya untuk merealisasikan rencana investasi tersebut.
Ekspansi Emiten Haji Isam di Tengah Dinamika Pasar
Ketika sempat terjadi antrean bahan bakar minyak (BBM) di daerah, pengusaha Samsudin Andi Arsyad alias Haji Isam justru bergerak ke arah yang berlawanan dengan kepanikan, yakni masuk ke bisnisnya. PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), emiten Haji Isam, melalui PT Talenta Bumi Energi tengah mengajukan izin untuk memasuki bisnis perdagangan BBM.
Rencana ekspansi tersebut menjadi perhatian pasar setelah saham TEBE melesat 96,5% dalam tiga bulan terakhir. Namun, kenaikan harga yang signifikan itu juga menyimpan risiko, mengingat sejumlah rencana pengembangan bisnis perseroan belum terealisasi.
Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali menilai langkah TEBE memasuki bisnis perdagangan BBM memiliki dasar bisnis yang masuk akal, terutama karena dukungan infrastruktur dan potensi permintaan dari kelompok usaha Haji Isam.
Proyeksi Kinerja Emiten Pertambangan Logam
Laba bersih emiten pertambangan logam, meliputi emas, nikel, tembaga, dan timah, diperkirakan tumbuh 5,9% secara kuartalan menjadi US$ 896 juta pada kuartal III-2026. Pertumbuhan kinerja tersebut terutama ditopang oleh peningkatan volume produksi dan penjualan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) serta PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Taufan Fadhillah memperkirakan pendapatan sektor pertambangan logam mencapai US$ 4,9 miliar, naik 3,8% secara kuartalan dan 91,3% secara tahunan.
Namun, peningkatan pendapatan tersebut dibayangi penyusutan margin keuntungan. Margin laba kotor diproyeksikan turun dari 30,4% menjadi 29,8%, sedangkan margin laba usaha melemah dari 27,1% menjadi 24,8%.
Tekanan Jual Asing pada Saham Perbankan Besar
Petaka menimpa saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA dalam sepekan terakhir, terutama setelah MSCI mengusulkan penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Saham emiten Grup Djarum yang dikendalikan Robert Budi Hartono, orang terkaya nomor 1 di Indonesia, menjadi sasaran terbesar aksi jual investor asing.
Asing begitu gencar melakukan transaksi jual bersih (net sell) saham BBCA hingga mencapai Rp 1,85 triliun selama periode 12-16 Oktober 2026. Penjualan terjadi di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI), berdasarkan data Stockbit Sekuritas yang diakses pada Minggu (18/10/2026).
Net sell asing pada saham BBCA merupakan yang terbanyak dibandingkan saham lainnya, diikuti saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Net sell asing pada saham BBRI sebesar Rp 1,1 triliun dan BMRI senilai Rp 1,06 triliun.









