Market

Rupiah Tembus Rp 18.000, Bank Indonesia Pastikan Nilai Tukar Masih Aman

Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan stabilitas rupiah masih dapat dikendalikan meski sempat melemah ke level Rp 18.046 per dolar AS.

Rupiah Tembus Rp 18.000, Bank Indonesia Pastikan Nilai Tukar Masih Aman
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti (Sumber: ANTARA/Fathur Rochman/pri)

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memastikan stabilitas rupiah masih terjaga di tengah tekanan pasar dalam dua hari terakhir. Bank sentral berkomitmen untuk terus mengawasi dan siaga di pasar setelah nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp 18.046 per dolar Amerika Serikat pada Senin (19/10/2026).

Keterangan tersebut disampaikan Destry usai mengikuti rapat internal yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto bersama para menteri Kabinet Merah Putih serta kepala badan di Istana Merdeka, Jakarta. Pertemuan itu membahas kondisi ekonomi nasional di tengah gejolak perekonomian global, di mana stabilitas rupiah dan inflasi menjadi perhatian utama kebijakan BI.

“Tapi so far dua hari ini rupiah bisa kami jaga stabilitasnya sehingga terjadi memang pelambatan, sedikit pelambatan dan itu juga sesuai dengan beberapa negara di emerging market. Intinya Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar,” ujar Destry.

Pelemahan rupiah ini terjadi setelah mata uang Garuda kembali menyentuh kisaran Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Tekanan tersebut dipicu oleh pengumuman dari MSCI yang mengusulkan pengeluaran pasar saham Indonesia dari kategori Emerging Market menuju Standalone Market, yang kemudian memicu aliran modal keluar.

Dalam rapat terbatas tersebut, dibahas pula berbagai tantangan global seperti suku bunga tinggi di negara maju yang bertahan lebih lama serta angka inflasi global. Guna meredam tekanan lebih lanjut, Destry menegaskan bahwa otoritas moneter akan mengoptimalkan seluruh instrumen yang ada.

“Kami diminta juga oleh Bapak Presiden untuk terus melihat, upayakan kebijakan-kebijakan yang kami miliki apakah itu bentuknya intervensi di spot, DNDF dan NDF ataupun juga dalam bentuk insentif biaya hedging yang juga sudah kami berikan sejak akhir bulan Juni yang lalu dan hingga saat ini sudah bisa mendatangkan inflow baik dalam bentuk efek swap ataupun dalam bentuk DNDF senilai sekitar US$ 8 miliar sampai 9 miliar,” pungkas Destry.

Kondisi Inflasi Domestik

Selain pergerakan nilai tukar, pertemuan di Istana Merdeka itu juga mengevaluasi tingkat inflasi di dalam negeri. Destry menyampaikan bahwa inflasi inti sejauh ini masih berada dalam batas yang terkendali pada angka 2,8% sepanjang September.

Kendati demikian, pemerintah dan otoritas moneter memberikan perhatian khusus pada pergerakan harga pangan bergejolak yang tercatat menyentuh 5%. Untuk mengatasi hal tersebut, Bank Indonesia akan memperkuat koordinasi bersama Kementerian Pertanian.

“Ini tadi kami laporkan dan juga koordinasi nanti dengan Kementerian Pertanian bagaimana kita bisa menjaga untuk volatile food inflation agar masuk di dalam koridor Bank Indonesia 2,5±1%,” imbuh Destry.