Topik.id — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin. Mata uang Garuda ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap perkembangan geopolitik di kawasan Asia Barat.
Pada penutupan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.847 per dolar AS atau turun 89 poin setara 0,50 persen dibandingkan posisi akhir perdagangan sebelumnya yang berada di Rp17.758 per dolar AS. Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar juga mulai memperhitungkan arah kebijakan moneter Bank Indonesia dalam beberapa hari ke depan.
Ketegangan Asia Barat Tekan Sentimen Pasar
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai perkembangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan rupiah.
Menurut Ibrahim, ketegangan di kawasan tersebut masih tinggi setelah kelompok Ansarullah Houthi dari Yaman menyatakan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi sensitif di Riyadh, Arab Saudi. Serangan disebut menggunakan rudal dan pesawat nirawak atau drone.
Selain menyasar wilayah Riyadh, kelompok tersebut juga menyatakan menyerang fasilitas Aramco di Yanbu. Kota yang berada di kawasan pesisir Laut Merah itu merupakan salah satu pusat penting dalam aktivitas ekspor minyak Arab Saudi.
Perkembangan tersebut menambah perhatian pelaku pasar karena konflik di kawasan penghasil minyak dapat memengaruhi jalur distribusi energi global. Kondisi itu berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan dan mendorong investor memperhatikan pergerakan aset-aset safe haven, termasuk dolar AS.
Gangguan Jalur Energi Jadi Perhatian
Serangan terhadap jalur pipa Timur-Barat milik Saudi Aramco turut memengaruhi strategi distribusi ekspor minyak negara tersebut. Menurut Ibrahim, perusahaan energi Arab Saudi meningkatkan pengiriman melalui Selat Hormuz pada bulan ini dan bulan depan setelah sebelumnya sebagian pengiriman melalui Yanbu dihentikan.
Perubahan jalur distribusi tersebut menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur penting dalam perdagangan energi dunia. Setiap gangguan terhadap kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap harga minyak dan sentimen investor secara lebih luas.
Bagi pasar valuta asing, kenaikan ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Pasar Menunggu Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia
Selain faktor eksternal, perhatian pelaku pasar domestik kini tertuju pada keputusan Bank Indonesia yang dijadwalkan dalam Rapat Dewan Gubernur pada Rabu, 23 September.
Ibrahim menyebut pasar akan mencermati langkah bank sentral di tengah dinamika nilai tukar rupiah, perkembangan inflasi, serta kebijakan bank sentral dunia yang mulai menunjukkan arah berbeda.
Menurutnya, sebagian bank sentral mengambil kebijakan yang lebih ketat, sedangkan sebagian lainnya masih mempunyai ruang untuk melakukan pelonggaran dengan mempertahankan suku bunga acuannya.
Ibrahim memperkirakan Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam rapat tersebut. Perkiraan itu dikaitkan dengan kondisi inflasi global yang masih menjadi perhatian.
Keputusan BI akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar karena kebijakan suku bunga dapat memengaruhi daya tarik aset dalam rupiah sekaligus menentukan arah pergerakan nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan.
JISDOR Ikut Mengalami Pelemahan
Tekanan terhadap rupiah juga tercermin dalam kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR yang diterbitkan Bank Indonesia.
Pada perdagangan Senin, posisi JISDOR tercatat sebesar Rp17.813 per dolar AS. Angka tersebut melemah dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp17.745 per dolar AS.
Dengan demikian, baik nilai tukar rupiah di pasar spot maupun JISDOR sama-sama menunjukkan pelemahan pada perdagangan hari ini. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan geopolitik global, arah kebijakan bank sentral dunia, serta keputusan Bank Indonesia pada rapat 23 September.
