TOPIK.ID — Tim nasional sepak bola Indonesia mengukir sejarah baru di kancah Asia Tenggara setelah berhasil keluar sebagai juara Piala FIFA ASEAN usai menundukkan Thailand lewat adu penalti, 4-2, pada partai final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (5/10/2026). Kemenangan ini sekaligus mengakhiri “kutukan” runner-up skuad Garuda untuk merengkuh trofi tertinggi di kawasan ASEAN.
Kevin Diks dan rekan-rekan sukses menembus blok mental tak pernah menang skuad Garuda pada laga final di tingkat Asia Tenggara selama lebih dari dua dekade. Ini merupakan kemenangan bersejarah karena timnas berhasil memenangi gelar kejuaraan yang baru pertama kali diadakan.
Kompetisi Piala FIFA ASEAN berbeda dengan Kejuaraan ASEAN karena masuk dalam kalender resmi FIFA serta turut menyertakan tim dari luar kawasan. Pada edisi perdana ini, Bangladesh dan Pakistan berkompetisi di Divisi 1, sementara Hong Kong berlaga di Divisi 2.
Babak Pertama Berakhir Imbang
Menerapkan formasi 3-4-2-1 seperti saat menaklukkan Bangladesh sebelumnya, pelatih John Herdman melakukan satu rotasi dengan memainkan Thom Haye sejak menit awal dan menggeser Ivar Jenner ke bangku cadangan. Lini serang yang diisi Lee Baker sebagai ujung tombak serta didukung Ole Romeny dan Ragnar Oratmangoen membuat alur serangan Indonesia tampak lebih cair.
Disaksikan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden FIFA Gianni Infantino, Indonesia langsung mengambil inisiatif menyerang dan mengurung lini belakang Thailand. Pada menit ketiga, peluang emas didapat lewat kaki kanan Luke Vickery, tetapi sepakannya berhasil diblok kiper Saranon Anoin. Berselang beberapa menit, giliran tendangan Lee Baker pada menit kedelapan yang kembali dimentahkan oleh Anoin.
Penguasaan lini tengah yang solid mampu meredam agresivitas Thailand, yang tercatat sebagai tim tersukses di Asia Tenggara dengan koleksi tujuh gelar juara di level regional. Kendati demikian, dominasi penguasaan bola hingga 68 persen membuat lini belakang Indonesia kerap terekspos oleh serangan balik cepat.
Justin Hubner terpaksa diganjar kartu kuning pada menit ke-23 usai melakukan pelanggaran taktis untuk menghentikan manuver lawan. Ketegangan sempat terjadi di akhir paruh pertama ketika wasit meninjau VAR pada menit ke-44 akibat potensi penalti bagi Thailand, namun keputusan akhir menyatakan tidak ada pelanggaran.
Hingga peluit babak pertama berbunyi, skor kacamata tetap bertahan kendati Indonesia melepaskan tujuh percobaan dengan dua mengarah ke gawang, berbanding satu tembakan tepat sasaran milik Thailand dari lima total percobaan.
Babak Kedua dan Perpanjangan Waktu
Memasuki paruh kedua, juru taktik John Herdman menarik keluar Thom Haye dan memasukkan Dean James guna memperkuat penguasaan bola di area sentral. Thailand mulai keluar menyerang dan menebar ancaman ke area pertahanan yang dikawal Elkan Baggott. Selepas menit ke-60, Rizky Ridho dan Ivar Jenner turut diturunkan menggantikan Vickery serta Oratmangoen.
Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-84 lewat sepakan bebas akurat Dean James dari luar kotak penalti. Hukuman tersebut lahir setelah Nicholas Mickelson menerima kartu kuning kedua akibat pelanggaran keras.
Unggul jumlah pemain tidak lantas membuat pertahanan Indonesia aman. Kelengahan lini belakang dimanfaatkan oleh pemain pengganti Thailand, Iklas Sanron, yang sukses mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-87. Skor 1-1 bertahan hingga waktu normal usai dan memaksa laga dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.
Pada masa extra time, Thailand memilih bertahan total. Di tengah upaya Garuda membongkar pertahanan rapat tersebut, petaka hadir pada menit ke-111 ketika pemain pengganti Peeradol Chamratsamee membawa Thailand berbalik unggul 2-1 via serangan balik.
Tertinggal satu gol, Indonesia terus menggempur lini pertahanan lawan. Hasilnya tercipta pada menit ke-116 bermula dari aksi individu Egi Maulana Vikri di sisi kanan. Umpan silangnya sempat ditepis penjaga gawang sebelum disambar dengan sempurna oleh Lee Baker untuk mengubah kedudukan menjadi 2-2.
Babak Adu Penalti
Skor imbang bertahan hingga 120 menit tuntas di hadapan lebih dari 70.000 pendukung di GBK. Laga penentuan juara pun terpaksa diselesaikan melalui babak adu penalti.
Dalam babak tos-tosan tersebut, seluruh eksekutor Indonesia sukses menjalankan tugasnya dengan baik. Kegagalan penendang ketiga dan keempat Thailand memastikan kemenangan mutlak bagi skuad Garuda.
Hasil manis ini resmi meruntuhkan rekor buruk sebagai spesialis runner-up dalam enam kesempatan final terdahulu pada edisi 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020. Trofi ini sekaligus menjadi ajang pembalasan atas tiga kekalahan final Piala AFF di masa lalu sekaligus memperbaiki rekor pertemuan kontra tim Gajah Putih.
Keberhasilan ini menjadi modal berharga menatap turnamen bergengsi selanjutnya. Skuad asuhan John Herdman dijadwalkan ambil bagian dalam ajang Piala Asia 2027 di Arab Saudi pada Januari mendatang, di mana Indonesia kembali satu grup dengan Thailand, Jepang, serta Qatar di Grup F.
