Mengenal Sutan Muhammad Amin Nasution, Gubernur Sumatera Utara pertama

Sutan Muhammad Amin Nasution dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai Gubernur Sumatera Utara pada tanggal 19 Juni 1948.

Hendrik Syahputra author photo
Simpan
iklan
Sutan Muhammad Amin Nasution | foto cover @situs resmi Provinsi Sumatera Utara.

Sutan Muhammad Amin Nasution atau lebih dikenal SM Amin merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh yang terlibat dalam Sumpah Pemuda. 

SM Amin terlibat dalam persiapan ikrar Sumpah Pemuda yang menjadi hasil dari Kongres Pemuda II tahun 1928.  Ia turut menjadi peserta bersama 700 orang lainnya yang hadir dalam kongres tersebut. 
 
Seperti dilansir TOPIK.ID dari laman resmi Wikipedia setelah kemerdekaan, SM Amin dilantik sebagai Gubernur Muda Sumatera Utara.  

Semasa menjabat sebagai gubernur muda, SM Amin mencetak uang daerah untuk Provinsi Sumatera Utara, yaitu Uang Republik Indonesia Sumatera Utara. 

Menjabat sebagai Gubernur Sumatra Utara pertama.

Dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1948 tanggal 15 April 1948 Provinsi Sumatera dihapuskan, dan Karesidenan Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan menjadi Provinsi. 

SM Amin dilantik oleh Presiden Sukarno sebagai Gubernur Sumatera Utara pada tanggal 19 Juni 1948. Pelantikannya dimulai pukul 20.00, dan dihadiri oleh Daud Beureu'eh, Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Karo.

Latar belakang.

SM Amin memiliki nama kecil, yaitu Krueng Raba Nasuton. Ia lahir di Lhok Ngah, Aceh, 22 Februari 1904. SM Amin adalah putra dari Muhammad Taif dan Siti Madinah.  Pada 1912, SM Amin belajar di Europeesche Lagere School (ELS) atau sekolah dasar Eropa di Sabang. 

Tiga tahun kemudian, tahun 1915, ia pindah ke ELS di Solok.  Lalu, pada 1916, SM Amin kembali pindah sekolah ke ELS di Sibolga dan ELS Tanjung Pinang. SM Amin lulus pada 1918.  

Setelah lulus, SM Amin melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran atau STOVIA di Batavia pada 1919.  Selama di STOVIA, SM Amin aktif dalam gerakan kemahasiswaan. Ia bergabung dengan Jong Sumatranen Bond.  

Selanjutnya SM Amin memutuskan keluar dari STOVIA pada 1921. Ia lanjut sekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, Sekolah Menengah Pertama).  

Berkat prestasinya, ia diterima di Algemeene Middelbare School (AMS) di Yogyakarta. SM Amin lulus dari AMS pada pertengahan tahun 1927.  

Kemudian, SM Amin melanjutkan sekolahnya di Rechtschoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia.  

Selama bersekolah di sana, SM Amin menjadi salah satu pendiri organisasi Pemuda Indonesia. Organisasi tersebut yang kemudian menggelar Kongres Pemuda Kedua di Batavia. 

Karir

SM Amin lulus dengan gelar Meester in de Rechten (Magister Hukum), pada 16 Juli 1934, ia memulai kariernya sebagai pengacara di Kutaraja, Aceh. Tujuh tahun kemudian, pasukan Jepang datang menduduki Aceh. 

Selama masa pendudukan Jepang ini, SM Amin bekerja sebagai hakim di Sigli. Setahun setelah menjadi hakim, SM Amin dipindahkan sebagai diresktur Sekolah Menengah Atas Kutaraja. Selama waktu tersebut, ia menjadi anggota Partai Indonesia Raya (Parindra).  

Kemudian, setelah Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945, pemerintah Indonesia segera membentuk provinsi dan mengangkat gubernur untuk menjabat di provinsi tersebut. Provinsi Sumatera sendiri terdiri dari beberapa karesidenan, salah satunya Sumatera Utara. 

SM Amin lantas ditunjuk oleh Gubernur Sumatera, Teuku Muhammad Hasan, untuk menjadi Gubernur Muda Sumatera Utara. Ia dilantik pada 14 April 1947. 

SM Amin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Semasa hidup, ternyata dalam catatan sejarah SM Amin pernah menjadi gubernur untuk provinsi berbeda, yakni Sumatera Utara dan Riau.

Dilansir dari Antara, Selasa (10/11/2020), Amin Nasution lahir Aceh Besar, Provinsi Aceh, pada 22 Februari 1904 dan meninggal di Jakarta, 16 April 1993, pada usia 89 tahun.

Pada peringatan Hari Pahlawan pada tahun 2020, SM Amin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional ini berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 117 TK Tahun 2020 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Selain SM Amin, ada lima tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Bagus, layak untuk dibagikan!
TOPIK.ID sebagai media Milenial dan Gen Z untuk publik, didukung oleh publik. Menyediakan semua konten jurnalistik modernitas secara berimbang sesuai pedoman dan tentunya gratis untuk diakses demi kesetaraan informasi di Indonesia, tanpa halaman berbayar, tanpa hoax.
iklan
Komentar

iklan

Terkini