Pencurian data marak, begini cara cek kebocoran dengan fitur Google

Agar memenuhi syarat untuk laporan dark web harus memiliki Akun Google dengan Gmail.

Hendrik Syahputra
A- A+
cover: topik.id
Maraknya kasus pencurian data membuat banyak orang merasa khawatir. Keamanan data yang diperjual-belikan di dark web atau web gelap dapat berdampak serius, mulai dari penggunaan identitas hingga penyalahgunaan informasi pribadi untuk kegiatan ilegal. 

Beberapa insiden besar telah menyoroti betapa seriusnya ancaman ini. Misalnya, kasus pencurian data besar-besaran yang melibatkan data universitas perguruan tinggi, pemerintahan hingga perusahaan, menunjukkan bahwa organisasi dengan sistem keamanan canggih pun tidak kebal terhadap serangan siber.

Namun, untuk mengatasi masalah ini, Google menyediakan berbagai fitur yang dapat membantu pengguna memeriksa apakah data yang mengalami kebocoran di dark web.

Melansir dari laman resmi Support Google, pengguna dapat menjalankan laporan dark web untuk alamat email yang terkait dengan Akun Google. 
"Agar memenuhi syarat untuk laporan dark web, Anda harus memiliki Akun Google untuk dapat menggunakan laporan dark web," rincian keterangan di laman Bantuan Google, dikutip Rabu (10/7/2024).
Pengguna di Indonesia dapat mengetahui apakah data telah bocor di dark web, berikut ini cara mengetahui kebocoran data di dark web hanya menggunakan Google Account dengan Gmail:
  • Buka Gmail melalui aplikasi atau browser;
  • Klik "Manage Show Google Account" atau "Kelola Akun Google Anda";
  • Lanjutkan dengan menekan bagian "Security" atau "Keamanan";
  • Tarik ke bawah lalu tekan "See if your email address is on the dark web" atau "Lihat apakah alamat email Anda ada di dark web";
  • Klik "Run Scan" atau "Jalankan Pemindaian";
  • Setelah itu, secara otomotis tertera keterangan apakah nama, tanggal lahir, alamat e-mail, dan data diri lainnya tersebar di dark web atau tidak.
Pencurian data bukanlah fenomena baru, namun frekuensinya semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi. 

Penjahat siber menggunakan berbagai metode canggih untuk mencuri informasi pribadi, seperti kata sandi, nomor kartu kredit, dan data sensitif lainnya. 

Hal ini diperparah dengan fakta bahwa banyak pengguna internet yang masih kurang waspada dalam melindungi data.
Apakah konten ini bermanfaat?
Dukung dengan memberikan satu kali kontribusi.

Share:
Berbasis data.
Paling diminati.
Digilife Terkini
Lihat semua
Komentar
Login ke akun RO untuk melihat dan berkomentar.

Terkini

Indeks