Topik.id — Harga emas kembali menguat dan mendekati level US$ 4.700 per ons troi pada Selasa (25/8/2026). Penguatan ini didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS, serta ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed.
Saat berita ditulis, harga emas tercatat menguat 0,5% ke level US$ 4.674,32 per ons troi. Kemarin, harga emas spot sempat menyentuh US$ 4.680,70 per ons troi, level tertinggi sejak 14 Mei 2026, sebelum ditutup pada US$ 4.639,49 per ons troi.
Market Analyst Forex.com Fawad Razaqzada menilai, prospek emas dalam jangka pendek masih positif setelah mencatat kenaikan selama tiga pekan berturut-turut. Emas terus mendapatkan dukungan dari dolar AS yang lebih lemah dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut.
“Salah satu faktor yang membuat emas tetap kuat adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal AS,” tulis Razaqzada dalam risetnya, Senin (24/8/2026).
Razaqzada menjelaskan, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS kali ini tidak semata-mata mencerminkan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang lebih ketat. Kenaikan yield juga dipicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan utang AS, meningkatnya biaya pembayaran utang, serta kredibilitas fiskal pemerintah.
Kondisi ini menciptakan kombinasi yang tidak biasa, yaitu imbal hasil obligasi meningkat sementara dolar AS melemah. Situasi tersebut justru menjadi lingkungan yang mendukung bagi emas. Pelemahan dolar membuat emas yang dihargai dalam mata uang AS relatif lebih murah bagi pembeli di luar AS, sehingga berpotensi meningkatkan permintaan.
Dalam beberapa sesi terakhir, pelemahan dolar juga menjadi salah satu katalis utama penguatan emas. Razaqzada menilai, jika dolar kembali menembus level rendahnya, pelemahan lanjutan dapat menjadi katalis tambahan bagi emas untuk melanjutkan kenaikan.
Dolar AS memang sempat menguat tipis pada awal pekan, tetapi masih berada di dekat level rendahnya. Hal ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang AS belum sepenuhnya mereda.
Pasar juga mencermati kebijakan Washington terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan perluasan sanksi sekunder terhadap entitas dan negara yang masih menjalin hubungan bisnis dengan Iran. Kebijakan ini berpotensi kembali meningkatkan ketegangan perdagangan AS-China, mengingat China merupakan pembeli utama ekspor energi Iran.
“Jika ketegangan tarif kembali meningkat, dolar AS berpotensi menghadapi tekanan lebih lanjut,” papar Razaqzada.
Di sisi lain, kebijakan fiskal AS juga menjadi perhatian. Bessent sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan konsolidasi fiskal, tetapi pasar masih meragukan seberapa besar pemerintahan Presiden Donald Trump akan melakukan pemangkasan belanja atau kenaikan pajak di tengah agenda mendorong pertumbuhan ekonomi.
Data Inflasi dan Kebijakan Moneter
Pelaku pasar kini menantikan data inflasi AS yang akan menjadi ujian penting bagi prospek kebijakan moneter. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (core Personal Consumption Expenditures/PCE) untuk Juli dijadwalkan dirilis Rabu (26/8/2026). PCE merupakan indikator inflasi pilihan The Fed dan dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga.
Selain itu, perhatian tertuju pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026). Razaqzada memperkirakan Warsh belum tentu memberikan kejelasan mengenai keputusan suku bunga bulan depan, namun ia akan menghadapi tekanan untuk menegaskan kembali komitmen The Fed dalam mengendalikan inflasi.
Jika Warsh tidak memberikan sinyal untuk menahan penurunan yield obligasi baru-baru ini, dolar AS berpotensi tetap tertekan. Kondisi tersebut dapat menjaga emas tetap kuat ketika mengalami koreksi.
Dari sisi teknikal, emas telah menembus sejumlah level resistance dalam reli beberapa pekan terakhir. Level-level tersebut kini berpotensi berubah menjadi support jika harga mengalami koreksi. Area support pertama berada di kisaran US$ 4.500 – 4.541 per ons troi, yang merupakan pertemuan rata-rata pergerakan 200 hari dan area resistance sebelumnya.
“Jika level tersebut ditembus, area US$ 4.400 – 4.450 per ons troi menjadi support berikutnya,” tambah Razaqzada. Sementara itu, US$ 4.324 per ons troi menjadi level penting yang perlu diperhatikan. Penurunan secara meyakinkan di bawah level tersebut akan melemahkan prospek teknikal bullish dan mempertanyakan keberlanjutan tren kenaikan emas.
Di sisi atas, area US$ 4.680 – 4.700 per ons troi menjadi resistance penting. Jika berhasil ditembus, emas berpeluang menguji level psikologis US$ 4.800 dan US$ 4.900 per ons troi. “Target berikutnya berada di sekitar US$ 4.965 per ons troi, berdasarkan retracement Fibonacci 61,8%, sebelum menuju level psikologis US$ 5.000 per ons troi,” jelas Razaqzada.
Ikuti Topik.id

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.