Topik.id — Gunung Api Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan rentetan erupsi yang terjadi sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23:07 WIB hingga Sabtu (5/9/2026) pukul 04:40 WIB. Aktivitas ini terjadi setelah status gunung tersebut dinaikkan menjadi Siaga sejak Juli 2026.
Meskipun terjadi peningkatan aktivitas vulkanik, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa potensi ancaman tsunami saat ini masih berada dalam batas aman. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Rita Susilowati, menjelaskan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pascaerupsi besar pada Desember 2018 masih relatif kecil.
Berdasarkan pemantauan dari dua stasiun pengamatan di Pasauran dan Kalianda, pertumbuhan tersebut belum berpotensi memicu keruntuhan skala besar yang dapat menimbulkan tsunami. “Pertumbuhan tubuh gunung api saat ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” ujar Rita dalam konferensi pers daring pada Sabtu (5/9) kemarin.
Sebagai pengingat, tsunami dahsyat pada 22 Desember 2018 dipicu oleh longsoran sebagian tubuh gunung api ke laut akibat serangkaian erupsi, yang kemudian memindahkan massa air dalam jumlah masif dan menerjang pesisir Banten serta Lampung. Setelah peristiwa tersebut, Anak Krakatau mengalami erupsi berskala rendah secara berkepanjangan hingga 16 Desember 2023, yang merupakan bagian dari proses pertumbuhan kembali tubuh gunung api.
Peringatan Pakar BRIN
Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, turut menyoroti insiden erupsi Gunung Api Anak Krakatau pada 4-5 September ini. Melalui akun media sosial X pribadinya, Erma mengingatkan bahwa letusan Krakatau pada tahun 1883 pernah menjadi mimpi buruk bagi dunia.
“Krakatau itu pernah jadi mimpi buruk dunia. Ketika krakatau meletus tahun 1883, hampir seluruh dunia merasakan imbasnya. Dunia gelap selama berhari-hari. Negara-negara di Belahan Bumi Utara kehilangan musim dingin. Itulah mengapa letusan Anak Krakatau atau Krakatau ini sudah pasti jadi perhatian dunia,” tulis Erma, dikutip dari akun X-nya.
Erma juga menjelaskan lebih lanjut mengenai letusan Gunung Api Anak Krakatau berdasarkan pengamatan satelit hingga Sabtu (5/9) malam pukul 18:12 WIB. Ia menyatakan bahwa letusan piroklastik masih terjadi dan bergerak ke arah barat sejauh 851 kilometer. Letusan tersebut membentuk awan pirocumulus atau awan debu panas yang mengandung sulfur oksida, dan Pulau Enggano termasuk wilayah yang diselimuti awan tersebut.
“Berdasarkan simulasi, letusan membentuk kolom yang tinggi, dengan estimasi tinggi 13-14 km, menyentuh ketinggian tropopause. Pada waktu-waktu tertentu, ketika terbentuk angin laut yang kuat dan tekanan rendah di Banten, awan piro bisa saja menuju ke wilayah Serang, Banten, dan sekitarnya,” imbuh Erma dalam unggahannya.
Ikuti Topik.id
