— Bursa saham Asia menguat pada Rabu, 26 Agustus 2026, ditopang oleh penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi. Penguatan ini terjadi di tengah harapan bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali, yang sebelumnya menjadi jalur krusial bagi sepertiga perdagangan minyak dunia.

Investor juga menanti laporan keuangan perusahaan semikonduktor Nvidia yang dinilai menjadi ujian penting bagi keberlanjutan reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI). Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang tercatat naik 0,85%, sementara Nikkei Jepang menguat 0,7% dan indeks Kospi Korea Selatan naik 1%.

Sentimen pasar membaik setelah Iran menyatakan kembali melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Kondisi ini menekan harga minyak, dengan harga Brent turun lebih dari 2% menjadi sekitar US$86,41 per barel, menandai penurunan selama tiga hari berturut-turut. Penurunan harga minyak ini turut meredakan tekanan inflasi dan mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) turun, dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di 4,634%.

Pasar dengan cepat memasukkan optimisme atas kemungkinan pengumuman sementara terkait Hormuz, kata analis JPMorgan. Namun, perhatian investor kini beralih ke Nvidia yang dijadwalkan merilis laporan kinerja kuartal II pada Rabu waktu AS.

Hasil laporan Nvidia akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah lonjakan belanja AI masih mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang cukup kuat untuk memenuhi ekspektasi pasar. Analis memperkirakan Nvidia membukukan penjualan kuartal III sebesar US$104,20 miliar, naik 82,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Margin kotor yang disesuaikan diperkirakan bertahan sekitar 75% pada kuartal II dan III.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Nvidia mengalahkan ekspektasi, melainkan seberapa besar kejutannya dan apakah panduannya cukup kuat untuk kembali menaikkan ekspektasi laba, ujar Charu Chanana, chief investment strategist Saxo di Singapura. Menurutnya, pasar sudah terbiasa Nvidia melampaui ekspektasi, sehingga angka kinerja semata kemungkinan tidak cukup untuk menentukan arah pasar. Investor akan mencermati prospek pertumbuhan perusahaan setelah laporan tersebut dirilis.

Di pasar valuta asing, dolar AS relatif stabil setelah sebelumnya melemah, dengan indeks dolar berada di 98,934 dan masih berpotensi turun sekitar 1% sepanjang Agustus. Perhatian berikutnya tertuju pada data inflasi AS yang dirilis Rabu, sebelum simposium tahunan Federal Reserve di Jackson Hole pada akhir pekan, yang akan menjadi petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Sementara itu, harga emas bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga bulan di sekitar US$4.646,08 per ons. Bitcoin juga menguat 0,6% menjadi sekitar US$78.704. Kombinasi harga minyak yang melemah, ekspektasi inflasi yang lebih rendah, serta ketidakpastian terkait kebijakan fiskal AS membuat emas dan aset alternatif seperti bitcoin tetap diminati investor.