— Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengapresiasi langkah Emtek Group yang kembali menjadi official broadcaster untuk Super League musim 2026/2027. Apresiasi ini disampaikan Erick dalam acara seremonial BRI x I.League di SCTV Tower, Jakarta Pusat, pada Selasa (1/9/2026).

Dalam sambutannya, Erick Thohir menyoroti pentingnya sinergi antara berbagai elemen sepak bola Indonesia, mulai dari kompetisi, kinerja wasit, manajemen klub, hingga aspek komersialisasi. Ia menekankan bahwa kemajuan sepak bola nasional hanya dapat tercapai jika seluruh komponen tersebut berjalan selaras.

Erick juga tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada BRI atas kontribusinya dalam menjaga keberlangsungan kompetisi, terutama setelah sepak bola Indonesia melewati masa sulit akibat pandemi COVID-19 pada 2021. Ia menegaskan bahwa dukungan dari berbagai pihak sangat krusial dalam membangun ekosistem sepak bola yang lebih kokoh.

Menanggapi pernyataan Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, yang menyamakan Komisaris Utama I.League, Yunus Nusi, dengan pencetak gol, Erick Thohir memberikan analogi yang lebih luas mengenai permainan sepak bola. Menurutnya, sepak bola adalah permainan kolektif yang membutuhkan kontribusi dari setiap posisi, tidak hanya penyerang.

“Ketika Pak Dirut bicara kalau Komutnya bikin gol, itu mesti ada yang passing dari Dirut. Padahal permainan bola itu perlu ada penjaga gawang, bukan ngegolin saja,” ujar Erick.

Erick kemudian mengingatkan kembali peran penting BRI yang telah hadir memberikan dukungan saat sepak bola Indonesia menghadapi situasi genting pada 2021. Ia menyebutkan bahwa dukungan dari sponsor dan pemerintah pada masa itu menjadi kunci agar kompetisi tetap bergulir.

“Nah tadi dibilang, 2021 BRI ada saat covid membantu sepak bola Indonesia. Menterinya siapa waktu itu? Artinya, sebelum ada di dunia sepak bola hari ini, kita pemerintah dan juga saya sebagai menteri, kita membantu sepak bola Indonesia jauh sebelum ini. Jadi perlu penjaga gawang enggak BRI? Perlu, ya kan?” ungkapnya.

Erick mengibaratkan BRI saat ini sebagai ‘gelandang bertahan’ yang menjaga keseimbangan permainan. Peran ini dikaitkan dengan upaya pemerataan ekonomi, pertumbuhan UMKM, dan peningkatan daya beli masyarakat yang secara tidak langsung turut menopang industri sepak bola.

“Apalagi sekarang Pak Dirut sudah jadi… ya kan, defensive midfielder. Ini penting juga. Karena kenapa? Kalau BRI ini tidak terus menjaga sesuai dengan arahan Bapak Presiden bagaimana pemerataan ekonomi Indonesia dengan menumbuhkan UMKM, dengan menumbuhkan tentu bagaimana daya beli masyarakat bawah terus bisa, enggak ada yang beli tiket juga di BRI, hah, Super League, ya enggak? Jadi ini sebuah kesinambungan. Jadi perlu juga defensive midfielder,” jelasnya.

Erick Thohir memberikan apresiasi khusus kepada Emtek Group atas komitmennya dalam meningkatkan kualitas penayangan kompetisi sepak bola kasta tertinggi Indonesia. Ia menilai kualitas siaran memiliki korelasi kuat dengan popularitas dan rating kompetisi.

“Dan tentu saya mau ucapkan terima kasih kepada Emtek yang terus meningkatkan performance. Ya, karena rating penting,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Erick menegaskan bahwa pembangunan sepak bola Indonesia tidak bisa dilakukan secara terpisah. Seluruh pemangku kepentingan harus bersatu padu, termasuk dalam upaya menjaga integritas kompetisi dan meningkatkan kualitas perwasitan.

“Dan kita ini negara sepak bola. Artinya, kita tidak mungkin membangun sepak bola ini secara sendiri-sendiri. Kita ini stakeholder harus bersatu. Kompetisi harus bersih dengan terus meningkatkan tadi, yang namanya kualitas wasit. Ya, dari catatan saya kualitas wasit luar biasa. Yang dulunya itu 89,3 persen, sekarang naik di 90,7 persen tingkat akurasinya tanpa ada VAR,” bebernya.

Erick juga berterima kasih kepada BRI dan I.League atas konsistensi dukungan terhadap program-program PSSI. Apresiasi juga disampaikan kepada media dan para pelatih yang hadir, seraya berharap komitmen bersama untuk mengembangkan kompetisi nasional terus terjaga.

Menutup pernyataannya, Erick Thohir memasang target ambisius untuk popularitas Super League. Ia berharap rating kompetisi sepak bola Indonesia dapat melampaui Premier League.

“Saya terima kasih kepada media dan para pelatih yang hadir hari ini untuk kita sama-sama komitmen. Tinggal nanti Bu Siwi menggoreng bagaimana supaya rating-nya terus naik. Yang pasti lebih tinggi dari Premier League, kan? Yang pasti lebih tinggi dari Premier League, saya yakin,” tutup Erick Thohir.