Harga batu bara global bergerak menguat pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Kenaikan terjadi pada sejumlah kontrak di pasar Newcastle dan Rotterdam, sementara mahalnya gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) serta perubahan perdagangan batu bara kokas Australia menjadi perhatian pelaku pasar energi.
Kondisi tersebut menempatkan permintaan energi Asia sebagai salah satu faktor penting yang perlu dicermati. Korea Selatan mempertimbangkan penyesuaian penggunaan bahan bakar untuk pembangkit listrik di tengah tingginya biaya gas, sedangkan data ekspor Australia memperlihatkan perubahan pola pembelian batu bara kokas di sejumlah negara konsumen utama.
Harga Batu Bara Newcastle dan Rotterdam Menguat
Berdasarkan data perdagangan, kontrak batu bara Newcastle Oktober 2026 naik US$0,75 menjadi US$150,4 per ton. Kenaikan lebih besar terjadi pada kontrak November yang bertambah US$1,75 ke US$154,6 per ton.
Kontrak Desember 2026 juga menguat US$1,8 sehingga mencapai US$156,5 per ton. Pergerakan tersebut menunjukkan kenaikan harga pada ketiga kontrak yang tercatat di pasar Newcastle.
Penguatan turut terjadi pada batu bara Rotterdam. Kontrak Oktober naik US$0,7 menjadi US$145,65 per ton, sedangkan kontrak November meningkat US$3,05 ke US$152,25 per ton. Adapun kontrak Desember bertambah US$2,7 menjadi US$151,75 per ton.
Kenaikan harga tersebut berlangsung ketika pasar energi menghadapi ketidakpastian pasokan dan perubahan kebutuhan bahan bakar di sejumlah negara.
LNG Mahal, Korea Selatan Pertimbangkan Batu Bara
Mengutip OilPrice dan GMK Center, meningkatnya biaya LNG berkaitan dengan ketegangan di Timur Tengah serta gangguan pasokan dari Qatar. Situasi ini memberikan tekanan bagi negara-negara Asia yang bergantung pada impor gas untuk memenuhi kebutuhan energi.
Korea Selatan, yang merupakan importir LNG terbesar ketiga dunia setelah China dan Jepang, menghadapi pilihan untuk menekan konsumsi gas ketika harga di pasar spot meningkat.
Menteri Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan Kim Sungwhan menyampaikan perlunya pengurangan permintaan LNG dalam jangka pendek. Pemerintah juga berencana mengoptimalkan energi terbarukan, nuklir, dan batu bara untuk menjaga kecukupan pasokan listrik.
Data pasar yang dikutip Reuters menunjukkan pembangkitan listrik berbasis batu bara di Korea Selatan pada April 2026 melonjak 40 persen dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak Agustus 2019.
Meski berpotensi mendukung permintaan batu bara termal, perkembangan ini tidak serta-merta membuktikan bahwa perubahan kebijakan Korea Selatan menjadi penyebab langsung penguatan harga pada Jumat.
Ekspor Batu Bara Kokas Australia Berubah
Di pasar batu bara kokas, Australia mencatat ekspor 14 juta ton pada September 2026. Berdasarkan data BigMint yang dikutip OilPrice, volume tersebut meningkat 12,4 persen secara tahunan dan 2,9 persen dibandingkan Agustus.
Pengiriman ke China naik menjadi 3,34 juta ton, sementara ekspor ke Jepang mencapai 3,06 juta ton. Sebaliknya, pengiriman ke India turun menjadi 1,63 juta ton dan ekspor ke Vietnam menyusut menjadi 430.000 ton.
Secara kumulatif, ekspor Australia selama Januari hingga September 2026 mencapai 114,03 juta ton, naik 4,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perubahan arus perdagangan tersebut memperlihatkan perbedaan permintaan antarnegara. Ke depan, investor perlu mencermati harga LNG, kebutuhan pembangkit listrik Asia, serta permintaan industri baja untuk melihat arah perkembangan pasar batu bara global.









