Harga batu bara global melanjutkan penguatan hingga menyentuh level tertinggi dalam dua tahun pada perdagangan Jumat (30/10/2026). Kenaikan ini terjadi ketika pasar energi menghadapi tekanan pasokan gas alam cair (LNG) akibat konflik di Timur Tengah.
Mahalnya harga LNG membuat sejumlah negara kembali mempertimbangkan batu bara sebagai sumber energi untuk pembangkit listrik. Peralihan tersebut mendorong peningkatan kebutuhan impor, terutama dari kawasan Asia dan Eropa yang mulai mempersiapkan pasokan energi menjelang musim dingin.
Harga Batu Bara Newcastle dan Rotterdam Menguat
Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Oktober 2026 naik US$ 0,3 menjadi US$ 150,45 per ton. Penguatan lebih besar terjadi pada kontrak November yang bertambah US$ 2,1 ke posisi US$ 152,45 per ton.
Sementara itu, kontrak Desember 2026 melonjak US$ 2,3 menjadi US$ 154,95 per ton. Pergerakan tersebut menunjukkan penguatan harga batu bara untuk pengiriman dalam beberapa bulan mendatang.
Kenaikan juga terjadi pada batu bara Rotterdam. Kontrak Oktober 2026 meningkat US$ 0,35 menjadi US$ 145,2 per ton. Adapun kontrak November melejit US$ 3,8 ke level US$ 147,75 per ton, sedangkan kontrak Desember naik US$ 3,25 menjadi US$ 148,45 per ton.
Harga batu bara berada di US$ 152,45 per ton pada 30 Oktober 2026. Angka tersebut meningkat 1,40% dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak Oktober 2024.
Harga LNG Dorong Peralihan ke Batu Bara
Lonjakan harga batu bara tidak terlepas dari kenaikan harga LNG di pasar internasional. Gangguan pasokan yang berkaitan dengan konflik Timur Tengah membuat biaya pengadaan gas alam cair meningkat.
Situasi tersebut mendorong pembeli energi di Asia dan Eropa mencari alternatif untuk menjaga ketersediaan bahan bakar pembangkit listrik. Batu bara kembali dilirik karena harganya diperkirakan sekitar 80% lebih murah dibandingkan LNG.
Selisih harga yang cukup besar membuat penggunaan batu bara menjadi pilihan ekonomis bagi sejumlah pembangkit listrik. Peningkatan kebutuhan ini turut menopang harga komoditas tersebut di tengah ketidakpastian pasokan energi global.
Proyeksi Permintaan Global dan Produksi Indonesia
International Energy Agency (IEA) pada September memproyeksikan permintaan batu bara dunia mencapai rekor tertinggi pada tahun ini. Perkiraan tersebut muncul meskipun sejumlah negara terus mendorong transisi menuju energi yang lebih bersih.
Upaya pengurangan penggunaan batu bara juga berlangsung melalui penutupan sejumlah pembangkit listrik tenaga batu bara di Eropa dan Amerika Utara. Namun, kebutuhan energi di berbagai kawasan masih menjadi faktor penting yang memengaruhi konsumsi komoditas tersebut.
Dari sisi pasokan, kebijakan Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar dunia turut menjadi perhatian pelaku pasar. Pembatasan ekspor berkontribusi terhadap penurunan pengiriman batu bara Indonesia sebesar 23% pada Agustus.
IEA juga memperkirakan produksi batu bara Indonesia berkurang lebih dari 12 juta ton sepanjang tahun ini. Penurunan tersebut berkaitan dengan kuota produksi yang lebih rendah serta ketidakpastian kebijakan.
Prospek Harga Batu Bara Masih Ditopang Faktor Energi
Pergerakan harga batu bara saat ini dipengaruhi kombinasi peningkatan kebutuhan energi dan keterbatasan pasokan. Kenaikan harga LNG membuat batu bara kembali kompetitif bagi pembangkit listrik, khususnya menjelang musim dingin.
Di sisi lain, penurunan produksi Indonesia berpotensi memperketat ketersediaan batu bara di pasar internasional. Jika permintaan impor tetap meningkat sementara pasokan menghadapi tekanan, kondisi tersebut dapat menjadi faktor pendukung harga batu bara global.









